Pemerintah Korea Selatan meluncurkan program akses internet gratis bagi sekitar tujuh juta pengguna ponsel, dengan mewajibkan operator seluler menyediakan aliran data tanpa biaya setelah kuota bulanan pelanggan habis. Namun, layanan ini tidak sepenuhnya tanpa batas dalam praktiknya karena kecepatan koneksi dibatasi hingga 400 Kbps.
Kementerian Sains dan ICT Korea Selatan menyatakan tiga operator besar—SK Telecom, KT, dan LG Uplus—telah menyetujui inisiatif tersebut. Dengan skema ini, pelanggan tetap dapat terhubung ke internet untuk kebutuhan dasar meski kuota utama telah habis.
Kecepatan 400 Kbps dinilai tidak memadai untuk aktivitas yang memerlukan bandwidth besar seperti menonton video. Pemerintah menyebut layanan ini memang ditujukan untuk fungsi-fungsi mendasar, seperti berkirim pesan dan kebutuhan autentikasi keamanan.
Kebijakan ini muncul di tengah fakta bahwa Korea Selatan dikenal memiliki layanan internet seluler yang sangat cepat. Rata-rata kecepatan unduhan disebut berada di kisaran 139 hingga 250 Mbps, sementara jaringan 5G dapat menembus 400 Mbps.
Menteri Sains dan ICT Bae Kyung-hoon menjelaskan, akses online tanpa batas dipandang sebagai bagian dari hak dasar telekomunikasi, yang biayanya dinilai perlu ditanggung oleh operator. Ia juga menyinggung bahwa program ini menjadi bentuk pertanggungjawaban menyusul berbagai persoalan keamanan yang menimpa industri telekomunikasi dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam laporan yang sama, SK Telecom disebut didenda USD 97 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun akibat peretasan pada sistem inti. LG Uplus dilaporkan mengalami kebocoran data catatan panggilan pelanggan sebesar 3TB. Sementara KT disebut menyebarkan perangkat pemancar dengan keamanan buruk yang berpotensi mengekspos pelanggan pada risiko penipuan siber.
KT juga sempat dituduh memasang perangkat lunak berbahaya pada sekitar 600.000 komputer pelanggan secara diam-diam. Tuduhan tersebut dikaitkan dengan upaya mengganggu lalu lintas torrent dan disebut berujung pada penyelidikan kepolisian.
Bae menyatakan industri telekomunikasi telah mencapai titik kritis sehingga memerlukan tindakan nyata. Ia menuntut operator menghadirkan inovasi dan kontribusi sosial yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain penyediaan data gratis berkecepatan terbatas, operator juga diwajibkan meningkatkan jatah kuota bagi warga lanjut usia. Mereka juga berjanji memperkenalkan paket 5G murah dengan harga maksimal USD 13,50 atau sekitar Rp 216 ribu.