Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel tidak hanya memengaruhi pasokan serta harga minyak dunia, tetapi juga berimbas pada industri semikonduktor—komponen penting bagi berbagai perangkat elektronik modern.
Dampak konflik ini disebut tidak menyerang produksi chip secara langsung, melainkan menekan pasokan helium, material yang dinilai vital dalam proses manufaktur semikonduktor. Helium digunakan dalam beberapa tahapan penting pembuatan chip, termasuk pendinginan, pendeteksian kebocoran, serta proses manufaktur presisi. Seiring krisis di Timur Tengah, harga gas tersebut dilaporkan melonjak.
Pasokan helium global juga dinilai rentan karena terkonsentrasi secara geografis. Data U.S. Geological Survey (USGS) menyebut Qatar memproduksi hampir sepertiga pasokan helium dunia. Kondisi ini membuat gangguan di kawasan tersebut berpotensi cepat menjalar ke rantai pasok global.
“Kekurangan helium merupakan masalah yang sangat mengkhawatirkan,” kata Cameron Johnson, mitra senior di konsultan rantai pasokan Tidal Wave Solutions, seperti dikutip Reuters pada Senin (30/3). Ia menyebut perusahaan memiliki sedikit pilihan dalam jangka pendek selain memperlambat produksi dan memprioritaskan produk-produk yang dianggap kritis, sembari berharap ada penyelesaian cepat.
Menurut Johnson, kekurangan yang berkepanjangan dapat memaksa pemotongan produksi dan berdampak luas pada berbagai industri, mulai dari elektronik hingga otomotif. “Karena adanya kekurangan, perusahaan mungkin mulai memperlambat produksi atau pada akhirnya menghentikan produksi chip,” ujarnya. Ia menambahkan, “Jika hal itu terjadi, Anda akan melihat dampaknya pada sektor-sektor seperti elektronik, otomotif, bahkan ponsel pintar.”
Dampak serupa disampaikan Jerry Zhang, Kepala Penjualan China di perusahaan komponen semikonduktor Swiss VAT. Ia mengatakan konflik di Timur Tengah telah memperketat pasokan helium dan sudah memengaruhi produksi di perusahaannya serta perusahaan lain. Zhang juga menyebut keterlambatan pengiriman ikut memperparah situasi.
Tekanan pasokan disebut meningkat setelah serangan Iran pada pertengahan Maret terhadap fasilitas ekspor gas alam Qatar, yang dilaporkan memaksa fasilitas tersebut ditutup dan mengancam pasokan helium global. Dikutip dari The Guardian, perusahaan gas milik negara Qatar menyatakan penutupan itu akan memangkas ekspor helium sebesar 14 persen.
Di tengah situasi tersebut, kenaikan harga perangkat elektronik disebut sudah mulai terlihat. Salah satu contoh yang disorot adalah konsol PlayStation 5 (PS5). Kenaikan harga konsol ini dikaitkan dengan meningkatnya biaya komponen utama, termasuk chip memori.
Di AS, harga baru yang berlaku mulai 2 April akan membuat PS5 standar menjadi US$649,99 (Rp11,04 juta), naik dari US$549,99 (Rp9,34 juta). Edisi digital dibanderol US$599,99 (Rp10,19 juta), sementara PS5 Pro dipatok US$899,99 (Rp15,29 juta). Adapun PlayStation Portal remote player naik menjadi US$249,99 (Rp4,24 juta) dari sebelumnya US$199,99 (Rp3,39 juta).
Kenaikan serupa disebut akan berlaku di seluruh Eropa dan Jepang, setelah perusahaan menyatakan telah melakukan “evaluasi cermat” terhadap tekanan kenaikan biaya dalam rantai pasokan global.