Lalu lintas internet di Iran dilaporkan turun drastis hingga tinggal sekitar 1% dari tingkat normal, menandai pemadaman yang nyaris total. Data tersebut disampaikan organisasi pemantau internet independen NetBlocks pada pagi hari 2 Maret, dan disebut sebagai hari kedua berturut-turut kondisi serupa terjadi.
NetBlocks menilai pemutusan konektivitas ini merupakan pemadaman jaringan yang diatur oleh pemerintah Iran. Menurut organisasi tersebut, langkah semacam ini merupakan strategi yang telah berulang kali digunakan oleh otoritas Iran.
Sebelumnya, Iran juga pernah memblokir hampir seluruh akses internet pada Januari, di tengah gelombang protes yang meluas.
Analis internet Doug Madory menulis di platform X bahwa sisa lalu lintas yang masih terlihat kemungkinan berasal dari sistem daftar putih (whitelist) baru yang diterapkan pemerintah. Sistem ini disebut menciptakan pengecualian koneksi bagi kelompok-kelompok yang loyal kepada pemerintah.
Di saat yang sama, laporan juga menyebut adanya serangan siber dari Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung paralel dengan serangan udara yang menargetkan infrastruktur internet Iran. Reuters melaporkan bahwa pelaku dari AS dan Israel menargetkan sejumlah situs web berita pro-pemerintah Iran melalui peretasan dan serangan siber.
Dalam laporan yang sama, aplikasi kalender keagamaan BadeSaba—yang disebut memiliki lebih dari 5 juta unduhan—juga dilaporkan ikut diretas. Para penyerang menampilkan pesan yang menyerukan angkatan bersenjata untuk “meletakkan senjata mereka dan berdiri bersama rakyat.”
Kekhawatiran juga muncul terkait potensi serangan balasan di ranah siber. Saat Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap target AS dan sekutunya di Timur Tengah, kelompok pro-Iran diperkirakan dapat membuka front siber.
Meyers menambahkan bahwa dalam konflik sebelumnya, aktor siber yang terkait Teheran kerap menargetkan sektor energi, infrastruktur penting, keuangan, telekomunikasi, dan layanan kesehatan—bidang-bidang yang dinilai dapat memberikan tekanan maksimal kepada lawan.