Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kalimantan Timur melaporkan perkembangan program internet gratis untuk desa. Hingga awal Maret, jaringan internet telah terpasang di 802 dari total 841 desa atau sekitar 95,4 persen. Sementara itu, 39 desa lainnya masih dalam tahap pemasangan dan ditargetkan tuntas dalam waktu dekat.
Kepala Dinas Kominfo Kaltim Muhammad Faisal mengatakan seluruh pembiayaan program ditanggung Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Kominfo. Menurutnya, desa tidak dibebankan biaya apa pun karena kontrak dilakukan langsung dengan penyedia layanan.
Faisal menyebut ada beberapa desa yang melapor karena mempertanyakan adanya penagihan. Ia menegaskan bila ada penyedia layanan yang menagihkan biaya kepada desa, hal itu kemungkinan merupakan kesalahan administratif dan diminta agar tidak ditanggapi.
Berdasarkan paparan capaian per kabupaten, Mahakam Ulu telah menyelesaikan pemasangan di 50 dari 50 desa, sedangkan Penajam Paser Utara 30 dari 30 desa. Di wilayah lain, Kutai Barat tercatat 167 dari 190 desa terpasang, Paser 131 dari 139 desa, Kutai Kartanegara 188 dari 193 desa, Kutai Timur 136 dari 139 desa, dan Berau 99 dari 100 desa.
Adapun 39 desa yang masih dalam progres tersebar di Berau (1 desa), Kutai Barat (23 desa), Kutai Kartanegara (5 desa), Kutai Timur (2 desa), dan Paser (8 desa). Faisal menyatakan optimistis seluruh pemasangan dapat diselesaikan pada semester pertama tahun ini.
Dalam pelaksanaan program, Kominfo Kaltim menggunakan tiga metode penyambungan jaringan, yakni fiber optik, seluler, dan satelit. Sebanyak 439 desa menggunakan fiber optik, 131 desa melalui jaringan seluler, dan 232 desa memakai satelit. Faisal menyebut fiber optik menjadi pilihan dengan kecepatan paling tinggi.
Untuk pemasangan fiber optik, distribusi penyedia layanan meliputi Telkom Indonesia di 152 desa, Telkomsel 152 desa, Comtelindo 84 desa, dan Icon+ 50 desa. Pada jaringan seluler, Telkomsel menangani 131 desa. Sementara layanan satelit untuk 232 desa terdiri dari Telkomsat 78 desa, Icon+ 23 desa, Bestnet 118 desa, dan PSN (Pasifik Satelit Nusantara) 13 desa.
Meski progres hampir tuntas, Faisal mengakui tantangan masih muncul, terutama di desa-desa yang belum memiliki akses listrik PLN. Dari 23 desa yang tersisa di Kutai Barat, sebanyak 14 desa disebut belum memiliki akses listrik PLN berdasarkan data roadmap PLN November 2024. Kondisi ini dinilai membuat pemasangan dan operasional internet tidak dapat berjalan optimal.
Faisal mengatakan sejumlah desa menyiasati keterbatasan listrik dengan menggunakan genset, tenaga surya, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Namun, penggunaan genset membuat layanan internet tidak berjalan penuh karena akan ikut mati saat genset tidak beroperasi.
Meski demikian, Kominfo Kaltim menegaskan komitmennya untuk menuntaskan program internet gratis di seluruh desa. “Apapun itu, tugas kami adalah memasangkan internet di setiap 841 desa,” kata Faisal.