BERITA TERKINI
Keteladanan Orangtua Dinilai Jadi Kunci Pendampingan Anak Menggunakan Gadget

Keteladanan Orangtua Dinilai Jadi Kunci Pendampingan Anak Menggunakan Gadget

Malang—Pendampingan anak dalam penggunaan gadget dinilai tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan larangan. Orangtua disebut perlu menjadi teladan utama dalam penggunaan media digital agar anak dapat memahami batasan berinternet secara sehat dan seimbang di rumah.

Blogger dan penulis buku dari Komunitas Payung Literasi, Jihan Mawaddah, mengatakan keteladanan orangtua memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan sekadar nasihat. Menurutnya, anak cenderung meniru kebiasaan yang dilakukan orangtua setiap hari, termasuk dalam penggunaan gadget dan media sosial.

“Teladan dari orangtua itu lebih kuat daripada seribu kata. Anak melihat bagaimana ayah dan ibunya menggunakan gadget, bukan hanya mendengar larangan,” kata Jihan dalam dialog Literasi Digital, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi membuat akses internet semakin mudah dijangkau semua usia. Berdasarkan survei tahun 2025, sekitar 77 persen masyarakat Indonesia telah mengakses internet, dengan dominasi pengguna berusia 16 hingga 46 tahun. Tingginya angka tersebut membuat penggunaan media digital di lingkungan keluarga sulit dihindari.

Karena itu, Jihan menilai orangtua perlu memiliki kemampuan literasi media untuk memilah konten yang aman sekaligus mendampingi anak saat menggunakan internet. Ia mengingatkan, penggunaan gadget tanpa kontrol dapat berdampak pada kondisi mental anak akibat paparan dopamin berlebihan dari konten digital.

“Hormon dopamin akan keluar saat kita mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Masalahnya, kalau anak terlalu lama screentime, mereka terbiasa mendapatkan kesenangan instan sehingga daya tahan untuk berjuangnya menjadi rendah,” ujarnya.

Menurut Jihan, kondisi tersebut dapat memicu berbagai masalah, mulai dari gangguan konsentrasi, emosi yang tidak stabil, hingga kecenderungan mental illness. Ia menekankan pembatasan penggunaan gadget perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten sejak dini.

Jihan juga menyinggung adanya rekomendasi dari WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait penggunaan gadget pada anak. Ia menyebut anak di bawah usia tujuh tahun sebaiknya belum diberikan akses gadget secara bebas. Jika mulai dikenalkan, penggunaannya dilakukan bertahap dengan durasi singkat sekitar 10 hingga 15 menit.

“Anak itu harus dikenalkan secara bertahap, bukan langsung dibiarkan memegang gadget berjam-jam. Orangtua perlu hadir mendampingi, bukan sekadar memberikan perangkat,” katanya.

Ia menegaskan tidak semua konten digital berdampak buruk, namun orangtua perlu memahami mana yang bermanfaat dan mana yang berisiko membuat anak ketagihan layar.

Jihan berharap keluarga dapat membangun kebiasaan baru di rumah dengan mengurangi penggunaan gadget berlebihan serta memperbanyak aktivitas interaksi langsung maupun membaca bersama anak. Menurutnya, lingkungan keluarga yang sehat dapat membantu anak tumbuh lebih kuat secara emosional dan sosial di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.