BERITA TERKINI
Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN Teken Kesepakatan Sinergi Riset untuk Swasembada Pangan dan Hilirisasi

Kementan, Kemendiktisaintek, dan BRIN Teken Kesepakatan Sinergi Riset untuk Swasembada Pangan dan Hilirisasi

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menandatangani kesepakatan bersama tentang sinergi riset dan inovasi. Kesepakatan ini ditujukan untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan dan hilirisasi komoditas pertanian.

Kerja sama tersebut diposisikan sebagai langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dan perguruan tinggi. Targetnya, inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran penelitian, tetapi dapat diterapkan di sektor pertanian serta mendorong penguatan industri berbasis komoditas pangan nasional.

Mentan Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa pertanian membutuhkan dukungan riset dan inovasi yang kuat agar dapat berkembang. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri penting supaya hasil penelitian tidak hanya menjadi publikasi ilmiah, melainkan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi. Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, tetapi kalau tidak ditarik menjadi kebijakan dan tidak masuk ke industri, maka hanya berhenti di atas kertas,” kata Amran. Ia menambahkan, ketika inovasi diterjemahkan menjadi kebijakan dan program, dampaknya dapat dirasakan lebih luas.

Sementara itu, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyebut kesepakatan ini sebagai momentum bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi lebih nyata terhadap program swasembada pangan nasional. Menurutnya, banyak hasil riset akademik belum menembus pasar karena minimnya kolaborasi dengan industri dan pemerintah.

“Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dan industri menjadi sangat penting agar inovasi bisa benar-benar dimanfaatkan,” ujarnya. Ia juga menyampaikan rencana konsolidasi perguruan tinggi agar fokus mengembangkan riset komoditas strategis untuk memperkuat kemandirian pangan.

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan pertanian merupakan fondasi penting bagi peradaban bangsa sehingga perlu didukung riset dan teknologi. Ia mengatakan BRIN telah menyiapkan peta jalan riset pangan nasional agar pengembangan inovasi antara lembaga riset dan perguruan tinggi berjalan selaras dan tidak tumpang tindih.

Arif menyebut BRIN telah menghasilkan 188 paten bidang pangan serta sejumlah produk inovasi yang siap dimanfaatkan industri. “Kami ingin BRIN goes to industry ke stakeholder termasuk Kementerian Pertanian agar produk bisa dimanfaatkan di lapangan dan membawa impact,” katanya. BRIN, lanjutnya, siap mendukung percepatan hilirisasi inovasi di sektor pangan.

Kesepakatan bersama ini mencakup koordinasi dan sinkronisasi program riset dan inovasi pada berbagai komoditas strategis, antara lain padi, jagung, kedelai, gandum, sorgum, bawang putih, sawit, kelapa, kopi, kakao, gambir, lada, pala, ayam, serta pengembangan alat dan mesin pertanian, pupuk, dan pengolahan pascapanen. Ruang lingkupnya juga mencakup komoditas lain yang mendukung swasembada pangan berkelanjutan dan hilirisasi komoditas pertanian.

Selain itu, kerja sama meliputi penelitian, pengembangan, perekayasaan teknologi pertanian, penguatan pertanian modern, serta pemanfaatan bersama sarana dan prasarana riset. Kesepakatan yang melibatkan sedikitnya 18 perguruan tinggi ini juga menyasar peningkatan kapasitas sumber daya manusia bidang pertanian, pertukaran data dan informasi, serta pemanfaatan hasil riset untuk mempercepat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian nasional.