BERITA TERKINI
Kementan, BRIN, dan Kemendiktisaintek Sepakati Penguatan Riset Pertanian untuk Swasembada Pangan

Kementan, BRIN, dan Kemendiktisaintek Sepakati Penguatan Riset Pertanian untuk Swasembada Pangan

Pemerintah memperkuat kolaborasi riset dan inovasi di sektor pertanian melalui penandatanganan kesepakatan bersama antara Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kesepakatan ini ditujukan untuk mendukung percepatan swasembada pangan berkelanjutan sekaligus mendorong hilirisasi komoditas pertanian.

Penandatanganan kerja sama berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dan perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di sektor pertanian serta mendukung pengembangan industri berbasis komoditas pangan nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya dukungan riset dan inovasi agar sektor pertanian terus berkembang. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, melainkan dapat diimplementasikan dalam kebijakan maupun praktik di lapangan.

“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi. Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, namun jika tidak diterjemahkan menjadi kebijakan dan tidak masuk ke industri, maka hanya akan berhenti di atas kertas,” ujar Amran, dikutip dari laman Kementan, Jumat (13/3).

Menurut Amran, sinergi antara riset dan kebijakan dapat menghasilkan dampak besar bagi pembangunan pertanian nasional. Ia menyebut berbagai kebijakan strategis di sektor pertanian lahir dari gagasan dan inovasi yang kemudian diimplementasikan pemerintah melalui program nyata. “Ketika inovasi masuk ke dalam kebijakan pemerintah, dampaknya bisa sangat luas bagi masyarakat. Kolaborasi seperti inilah yang ingin terus kita dorong,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan kerja sama ini menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi lebih nyata dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Ia menilai banyak hasil penelitian akademik belum mampu mencapai tahap komersialisasi karena kurangnya kolaborasi dengan pemerintah dan dunia industri.

“Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dan industri sangat diperlukan agar inovasi dapat benar-benar dimanfaatkan,” ujar Brian. Ia juga menyampaikan Kemendiktisaintek akan mengonsolidasikan berbagai perguruan tinggi di Indonesia agar lebih fokus pada pengembangan riset komoditas strategis yang mendukung kemandirian pangan nasional.

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menilai sektor pertanian merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa sehingga perlu ditopang riset dan teknologi yang terarah. Ia mengatakan BRIN telah menyiapkan peta jalan riset pangan nasional untuk memastikan pengembangan inovasi antara lembaga riset dan perguruan tinggi berjalan selaras dan tidak saling tumpang tindih.

Arif menyebut BRIN telah menghasilkan sekitar 188 paten di bidang pangan serta berbagai inovasi yang siap dimanfaatkan industri. “Kami ingin mendorong BRIN agar semakin terhubung dengan industri dan para pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pertanian, sehingga hasil riset dapat dimanfaatkan langsung di lapangan dan memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Kesepakatan bersama ini mencakup koordinasi serta sinkronisasi program riset dan inovasi pada berbagai komoditas strategis, antara lain padi, jagung, kedelai, gandum, sorgum, bawang putih, kelapa sawit, kelapa, kopi, kakao, gambir, lada, pala, dan ayam. Kerja sama juga meliputi pengembangan alat dan mesin pertanian, pupuk, serta teknologi pengolahan pascapanen.

Selain itu, ruang lingkup kerja sama mencakup penelitian, pengembangan teknologi pertanian, penguatan pertanian modern, hingga pemanfaatan bersama fasilitas riset. Kesepakatan ini turut melibatkan sedikitnya 18 perguruan tinggi di Indonesia, dengan fokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian, pertukaran data dan informasi, serta pemanfaatan hasil penelitian untuk mempercepat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian nasional.

Melalui sinergi tersebut, pemerintah berharap inovasi dan teknologi di sektor pertanian dapat berkembang lebih cepat, memperkuat kemandirian pangan nasional, serta meningkatkan daya saing komoditas pertanian Indonesia di pasar global.