BERITA TERKINI
Kemenperin Dorong IKM Perkuat Pemasaran Digital di Tengah 229 Juta Pengguna Internet

Kemenperin Dorong IKM Perkuat Pemasaran Digital di Tengah 229 Juta Pengguna Internet

Peluang pasar digital di Indonesia dinilai kian terbuka seiring meningkatnya tren belanja online. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kecil dan menengah (IKM) mengoptimalkan penerapan teknologi digital dalam menjalankan usaha agar mampu tumbuh dan bersaing, termasuk menghadapi produk impor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Kemenperin terus menjalankan program peningkatan literasi digital bagi IKM. Program ini ditujukan untuk membantu pelaku IKM menggunakan dan memanfaatkan pemasaran digital sehingga jangkauan pasar dapat diperluas.

Dalam pelaksanaannya, Kemenperin menggandeng berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dinas perindustrian di daerah, akademisi, hingga praktisi industri dan bisnis. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menjaga efektivitas serta keberlanjutan program penguatan IKM dalam negeri.

Potensi pasar digital tercermin dari data pengguna internet dan e-commerce. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2025 mencapai 229,43 juta orang. Sementara itu, data Kementerian Perdagangan memproyeksikan jumlah pengguna e-commerce pada 2025 mencapai 73,06 juta, naik 11 persen dibanding 2024 dan meningkat 89 persen dibanding 2020.

Selain itu, laporan Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat nilai transaksi e-commerce Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp1.192,8 triliun atau setara USD71 miliar.

Merespons peluang tersebut, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) mempercepat transformasi digital IKM, salah satunya lewat Workshop e-Smart IKM dan Literasi Digital. Kegiatan ini digelar pada 1 April 2026 di Balai Pengembangan Industri Fesyen dan Kriya (BPFIK), Kabupaten Badung, Bali, dan diikuti 80 pelaku IKM setempat.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyampaikan workshop tersebut merupakan kolaborasi Ditjen IKMA Kemenperin dengan sejumlah mitra strategis, antara lain Shopee, IKEA Indonesia, serta Universitas Ciputra Surabaya. Reni menilai pemasaran digital menjadi kebutuhan bagi pelaku usaha, khususnya IKM, karena memiliki keunggulan dibanding pemasaran konvensional.

Reni juga menyoroti peluang pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam strategi pemasaran. Menurutnya, AI dapat membantu personalisasi promosi sesuai preferensi konsumen, memprediksi tren pasar, serta menganalisis perilaku pelanggan secara lebih akurat sehingga efektivitas pemasaran dapat meningkat.

Kemenperin turut melanjutkan pengembangan program e-Smart IKM yang berjalan sejak 2017. Hingga kini, sebanyak 31.634 pelaku IKM telah mengikuti program tersebut melalui berbagai kegiatan literasi digital. Selain mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran, Kemenperin juga mengarahkan IKM melakukan transformasi menuju Industri 4.0 pada lini produksi.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan menyampaikan materi workshop diharapkan memperkuat kapasitas pelaku IKM dalam mengembangkan bisnis. Materi mencakup strategi pemasaran digital, teknik fotografi produk, serta optimalisasi pemasaran melalui marketplace.

Budi menambahkan, ke depan IKM di Bali diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) untuk meningkatkan skala usaha dan daya saing, terutama di sektor kriya dan fesyen. Melalui rangkaian upaya tersebut, Kemenperin menyatakan optimistis transformasi digital IKM akan memperkuat struktur industri dan mendorong peningkatan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.