Di tengah konflik dengan Iran, Kementerian Luar Negeri Israel mempromosikan aplikasi kencan bernama Hooked kepada warganya yang berlindung di bunker. Aplikasi tersebut disebut menjadi salah satu cara agar orang tetap bisa terhubung meski berada dalam situasi darurat perang.
Melalui akun Facebook resminya, Kementerian Luar Negeri Israel menyampaikan bahwa keberadaan aplikasi kencan di bomb shelter menunjukkan “cinta tetap bisa bersemi” di tengah peperangan.
Hooked dikembangkan oleh Noa Barazani dan Roi Revach. Aplikasi ini kembali ramai dibicarakan setelah dipromosikan oleh Kementerian Luar Negeri Israel. Dalam penggunaannya, Hooked memungkinkan pengguna membuat kode QR untuk sebuah acara yang sedang berlangsung.
Pengguna dapat mengunggah profil, mencari daftar acara, atau memindai kode QR di pintu masuk acara. Aplikasi kemudian menampilkan daftar orang yang sesuai dengan preferensi pengguna, sekaligus memungkinkan pengguna lain melihat profil mereka.
Jika dua pengguna dinyatakan cocok (matched), mereka dapat mulai mengobrol melalui aplikasi atau bertemu langsung di lokasi yang sama, termasuk di bunker.
Dengan mekanisme tersebut, para lajang di Israel dapat saling mengenal saat berada di tempat perlindungan dan sejenak mengalihkan perhatian dari situasi di luar.
Menurut laporan The Jerusalem Post, popularitas Hooked meningkat setelah sebuah unggahan di X oleh Yael Bar Tur menjadi viral. Unggahan itu menyebut bahwa orang Israel menciptakan aplikasi untuk memindai kode batang dan melihat siapa saja yang lajang di tempat perlindungan, sambil menyertakan tautan ke Hooked.
Unggahan tersebut kemudian diunggah ulang oleh Mike Huckabee, mantan duta besar AS untuk Israel. Dalam komentarnya, Huckabee menuliskan bahwa dengan seluruh negara berada dalam mode “berlindung di tempat”, hal semacam itu patut diduga akan muncul. Ia juga menambahkan bahwa suatu hari nanti orang bisa menceritakan kepada anak-anak mereka bahwa mereka bertemu melalui aplikasi kencan di tempat perlindungan saat menghindari rudal balistik.