BERITA TERKINI
Kemdiktisaintek Siapkan Rp1,7 Triliun untuk Dukung 18.215 Kegiatan Riset Kampus pada 2026

Kemdiktisaintek Siapkan Rp1,7 Triliun untuk Dukung 18.215 Kegiatan Riset Kampus pada 2026

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan pendanaan riset dan pengembangan sebesar Rp1,7 triliun pada 2026. Dana tersebut akan mendukung 18.215 kegiatan riset yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan pendanaan akan disalurkan melalui sembilan program utama, yakni Program Penelitian, Program Pengabdian kepada Masyarakat, Program Hilirisasi Riset Prioritas, Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak, Program Inovasi Seni Nusantara, Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi (PUI-PT), Program Mahasiswa Berdampak, Program Pengujian Model dan Prototipe, serta Program PHC-Nusantara.

Menurut Brian, seluruh program dirancang sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak yang berfokus pada penyelesaian persoalan strategis nasional. Isu prioritas yang disebut antara lain penanganan stunting, ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, penurunan tuberkulosis, pengelolaan sampah terpadu, serta pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera.

Brian juga menyampaikan apresiasi kepada para penerima pendanaan. “Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi luar biasa dalam menyiapkan diri bersama tim, berkolaborasi dengan dosen dan peneliti untuk menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sehingga menghasilkan karya riset dan inovasi yang berdampak,” ujarnya, dikutip Senin, 13 April 2026.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar hasil riset tidak berhenti pada tahap akademik, melainkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan industri. “Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kita demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menyatakan skema pendanaan 2026 difokuskan pada percepatan pemanfaatan hasil riset. Ia menyebut program diarahkan untuk menjawab berbagai permasalahan strategis nasional, memperkuat ekosistem riset, serta mendorong percepatan hilirisasi hasil riset ke masyarakat dan industri. Kolaborasi lintas perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan juga terus diperkuat agar pemanfaatan hasil riset lebih luas dan berdampak.

Secara komposisi, penerima pendanaan berasal dari seluruh provinsi di Indonesia, dengan 40% berasal dari perguruan tinggi negeri dan PTN berbadan hukum, serta 60% dari perguruan tinggi swasta.

Dari sisi bidang, sektor kesehatan memperoleh alokasi terbesar sebesar 27%, disusul ketahanan pangan 25%, hilirisasi dan industrialisasi 16%, serta digitalisasi—termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor—sebesar 15%. Sisa pendanaan dialokasikan untuk energi, manufaktur dan material maju, maritim, serta pertahanan.

Kemdiktisaintek juga menyebut adanya penyesuaian jadwal pengumuman untuk memastikan kesiapan implementasi kebijakan baru, termasuk alokasi honorarium peneliti hingga 25% yang mulai berlaku pada tahun anggaran 2026. Langkah ini disebut dilakukan untuk menjaga tata kelola pendanaan yang lebih akuntabel dan berkelanjutan.

Rincian pendanaan per program mencakup Program Penelitian yang meloloskan 13.028 proposal dari 83.284 usulan dengan total pendanaan Rp1,04 triliun. Program Pengabdian kepada Masyarakat menetapkan 3.328 tim penerima dari 15.728 usulan dengan total dana Rp167 miliar, yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah 3T dan kelompok rentan.

Program Hilirisasi Riset Prioritas mendanai 925 proposal dari 2.488 usulan dengan total Rp318 miliar untuk mendorong pemanfaatan hasil riset ke sektor industri. Program Pengujian Model dan Prototipe mendukung 354 proposal dengan pendanaan Rp46 miliar, terutama untuk tahap validasi dan penyempurnaan teknologi.

Untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak menetapkan 102 konsorsium penerima dengan total dana Rp62,4 miliar. Sebanyak 17 Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi menerima pendanaan Rp7,85 miliar untuk penguatan kelembagaan riset.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak, 202 kegiatan didanai dari 608 usulan dengan nilai Rp21,9 miliar. Program ini melibatkan lebih dari 10 ribu mahasiswa dalam upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera. Di sektor budaya, Program Inovasi Seni Nusantara mendukung 244 karya dengan total dana Rp17,5 miliar.

Sementara itu, Program PHC-Nusantara mendanai 15 riset kolaborasi Indonesia–Prancis dari 72 proposal yang masuk, dengan total Rp2,2 miliar.

Kemdiktisaintek menyatakan apresiasi kepada seluruh pengusul dan berharap pendanaan ini menghasilkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat dan industri nasional.