Pemerintah terus mendorong penguatan ketahanan dan kemandirian pertanian nasional melalui sinergi lintas sektor. Penguatan riset, inovasi, dan hilirisasi teknologi dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjawab tantangan sektor pangan, seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan kebutuhan peningkatan nilai tambah komoditas.
Dalam langkah tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta sejumlah perguruan tinggi menandatangani kesepakatan bersama untuk memperkuat kolaborasi riset dan inovasi. Penandatanganan berlangsung pada Kamis (12/3) di Gedung Kementan, Jakarta.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam pengembangan serta hilirisasi riset, khususnya di sektor pertanian. Ia menyebut perguruan tinggi memiliki kekuatan pada riset, sementara industri berperan membawa inovasi ke tahap implementasi dan pasar. Kerja sama ini juga diarahkan untuk pengembangan komoditas yang dinilai berpotensi memperkuat kemandirian nasional.
“Kami unggul untuk penelitian tetapi kalau sudah masuk ke hilir seperti ini, maka harus berkolaborasi dengan industri. Kami sangat senang pada hari ini kita di perguruan tinggi tentunya nanti bersama-sama dengan BRIN, diajak langsung menyasar komoditas-komoditas yang nilai kemandiriannya belum sepenuhnya atau masih ketergantungan dengan pihak lain,” kata Brian.
Senada, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kemajuan sektor pertanian bergantung pada inovasi dan kolaborasi perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan pemerintah. Ia menilai hasil penelitian dari kampus perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan implementasi di industri, dengan keterlibatan regulator pemerintah sebagai bagian penting.
“Tapi inovasi tidak cukup kalau regulator pemerintah tidak terlibat. Tujuannya supaya penelitian-penelitian yang ada di kampus ini dieksplorasi dalam bentuk kebijakan, karena anggaran ada di pemerintah,” ujar Amran.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menegaskan peran BRIN sebagai “dapur riset” yang mendukung kebutuhan penelitian berbagai kementerian dan lembaga. Menurutnya, BRIN telah melakukan pertemuan dengan kementerian dan lembaga untuk memetakan tema riset yang dibutuhkan, serta menyusun peta jalan riset bersama Kemdiktisaintek guna mencegah tumpang tindih penelitian.
“Tanpa peta jalan bersama antara Kemdiktisaintek dengan BRIN, maka kita khawatirkan riset-riset akan overlap dan kemudian tidak bisa fokus pada penyelesaian masalah, penyelesaian solusi,” kata Arif.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap lahir terobosan teknologi dan produk unggulan yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mendorong kemandirian dan daya saing Indonesia di tingkat global, sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.