BERITA TERKINI
Kemdiktisaintek Dorong Pengelolaan Sampah Terintegrasi Berbasis Riset dan Kolaborasi

Kemdiktisaintek Dorong Pengelolaan Sampah Terintegrasi Berbasis Riset dan Kolaborasi

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong penanganan persoalan sampah di Indonesia melalui pendekatan yang lebih inovatif dan berbasis ilmu pengetahuan. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai penguatan riset dan teknologi menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, modern, dan berkelanjutan.

Brian menyatakan, penerapan pengelolaan sampah terpadu sekaligus pembahasan peluang pengembangan teknologi pengolahan sampah berbasis riset merupakan arahan langsung dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Arahan tersebut menekankan penanganan masalah sampah nasional melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif.

Menurut Brian, pemerintah terus membuka ruang kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor industri agar solusi yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran teori, melainkan dapat diterapkan secara luas. Ia menegaskan persoalan sampah memerlukan penanganan yang sistematis dan menyeluruh, serta inovasi dari riset perguruan tinggi harus memberi kontribusi nyata bagi pengelolaan lingkungan.

“Kita perlu membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, dari tingkat masyarakat hingga fasilitas pengolahan skala regional,” ujar Brian saat mengunjungi fasilitas Integrated Waste Management (IWM) milik Taman Safari Indonesia pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Salah satu konsep yang dibahas adalah sistem pengelolaan sampah berjenjang yang menghubungkan proses pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas pengolahan regional berbasis teknologi. Secara konsep, sistem ini dimulai dari pemilahan sampah oleh masyarakat dan bank sampah, dilanjutkan ke stasiun pemilahan di tingkat kelurahan.

Tahap berikutnya, sampah diproses di fasilitas pengolahan tingkat kecamatan sebelum akhirnya masuk ke pusat pengolahan regional untuk menangani residu secara lebih efisien. Pengembangan fasilitas pengolahan berbasis wilayah dengan kapasitas tertentu juga menjadi bagian dari pembahasan, terutama untuk memastikan pengelolaan sampah berjalan efektif sekaligus mencapai skala ekonomi yang optimal.

Selain aspek lingkungan, Brian memandang pengelolaan sampah memiliki potensi berkembang menjadi sektor industri baru berbasis inovasi dan ekonomi sirkular. Ia menilai pengelolaan sampah memerlukan model bisnis yang berkelanjutan agar dapat berjalan konsisten dan memberikan manfaat.

“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan pendekatan program pemerintah, tetapi membutuhkan model bisnis yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, sampah juga dapat menjadi sumber industri baru berbasis inovasi. Dengan sistem pengelolaan yang tepat, sebagian besar sampah dapat dimanfaatkan kembali dan residunya menjadi sangat minimal,” kata Brian.

Dalam diskusi tersebut, turut dibahas sejumlah teknologi pengolahan sampah yang dapat dikembangkan, antara lain teknologi Black Soldier Fly (BSF) untuk pengolahan sampah organik, teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang menghasilkan bahan bakar alternatif bagi industri, serta teknologi pemilahan dan daur ulang material bernilai tinggi.

Brian juga meninjau langsung fasilitas IWM Taman Safari Indonesia yang telah menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Di lokasi itu, sampah dipilah, sampah organik diolah menjadi pakan maggot, sementara residu dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Model tersebut dinilai dapat menjadi contoh praktik yang bisa diterapkan di berbagai daerah untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional.

Melalui kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, Kemdiktisaintek berupaya mendorong perguruan tinggi agar lebih aktif menghasilkan riset dan inovasi yang menjawab persoalan masyarakat. Fokusnya mencakup pengembangan teknologi pengolahan sampah, model ekonomi sirkular, serta sistem pengelolaan yang dapat direplikasi.

Kemdiktisaintek juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lain untuk mempercepat hilirisasi riset, sehingga inovasi yang dihasilkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Dalam kunjungan tersebut, Brian didampingi Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman serta Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Yos Sunityoso. Diskusi juga melibatkan sejumlah praktisi industri dan pengelola fasilitas pengolahan sampah, di antaranya CEO Greenprosa Arky Gilang Wahab, Direktur Operasional Mujibur Rahman, Humas Taman Safari Indonesia Suharto, serta Manager Operasional IWM Helmi.