BERITA TERKINI
Kecanduan Media Sosial Meningkat, Generasi Muda Mulai Melirik Terapi Berbasis AI

Kecanduan Media Sosial Meningkat, Generasi Muda Mulai Melirik Terapi Berbasis AI

Perkembangan teknologi digital yang kian pesat dinilai membawa dampak besar terhadap kesehatan mental masyarakat, terutama anak muda. Fenomena kecanduan media sosial hingga munculnya tren terapi berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan dalam diskusi publik yang digelar Sampoerna University pada Dies Natalis ke-13, Senin (13/04/2026).

Diskusi bertajuk “The Battle for Your Attention: Psychology in the Age of Social Media and AI” menghadirkan psikolog konsultan asal Australia, Dr. Belinda S.L. Khong. Dalam paparannya, ia membahas tantangan kesehatan mental yang semakin kompleks di tengah masifnya penggunaan media sosial dan perkembangan teknologi AI.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Data per Januari 2025 menunjukkan sekitar 143 juta penduduk aktif menggunakan media sosial. Tingginya angka ini disebut berkorelasi dengan meningkatnya risiko kecanduan digital, khususnya pada anak-anak dan remaja.

Dr. Khong menjelaskan, penggunaan gawai sejak usia dini dapat memicu pelepasan dopamin berlebihan di otak. Kondisi tersebut menciptakan efek “ketagihan” yang mendorong individu terus mencari stimulasi instan dari layar digital.

“Ketika otak terbiasa dengan kepuasan instan, sensitivitas terhadap kesenangan alami dalam kehidupan sehari-hari bisa menurun,” ujarnya. Menurutnya, fenomena ini dinilai menjadi salah satu faktor yang turut mendorong meningkatnya kasus kecemasan dan depresi di kalangan generasi muda.

Pemerintah Indonesia telah merespons isu ini melalui kebijakan Perlindungan Anak di Ruang Digital, yakni PP TUNAS (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025). Regulasi tersebut bertujuan memperkuat pengawasan terhadap penggunaan teknologi oleh anak-anak.

Meski demikian, peran keluarga tetap dinilai krusial. Orang tua diharapkan menjadi contoh dalam penggunaan teknologi yang sehat, termasuk membatasi waktu layar, mengawasi konten, serta mendorong aktivitas offline seperti membaca dan interaksi sosial langsung.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan alternatif solusi melalui layanan terapi berbasis AI atau AI therapy. Layanan ini memungkinkan pengguna berkonsultasi terkait kesehatan mental melalui chatbot atau sistem berbasis suara.

Secara global, pasar terapi AI diproyeksikan tumbuh dari USD 1,8 miliar pada 2025 menjadi USD 8 miliar pada 2030. Selain itu, sekitar 36 persen Gen Z dan milenial dilaporkan tertarik menggunakan layanan tersebut.

Di Indonesia, sekitar 24 persen masyarakat disebut telah mencoba layanan kesehatan mental berbasis AI. Salah satu pendorongnya adalah keterbatasan akses terhadap tenaga profesional. Saat ini, jumlah psikolog klinis di Indonesia masih tergolong rendah, dengan rasio sekitar 1,43 per 100.000 penduduk.

Namun, kemudahan akses yang ditawarkan AI tidak lantas membuatnya dapat menggantikan peran psikolog atau tenaga medis profesional. “AI sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti. Interaksi manusia tetap menjadi inti dalam proses terapi kesehatan mental,” kata Dr. Khong.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan generasi baru, khususnya lulusan psikologi, untuk mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa mengabaikan pendekatan humanistik dalam praktiknya. Diskusi tersebut menegaskan bahwa tantangan kesehatan mental di era digital membutuhkan pendekatan kolaboratif, dengan peran pemerintah, institusi pendidikan, tenaga profesional, dan keluarga dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat.