Tradisi berbagi uang pecahan baru saat Lebaran masih mengakar kuat di masyarakat. Uang pecahan kecil kerap dibagikan kepada anak-anak, keponakan, maupun kerabat sebagai simbol berbagi kebahagiaan setelah sebulan berpuasa. Selain untuk dibagikan, uang baru juga umum digunakan untuk kebutuhan selama Idulfitri, mulai dari sedekah hingga transaksi kecil di lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat permintaan uang pecahan baru hampir selalu meningkat menjelang hari raya.
Bank Indonesia (BI) mencatat animo penukaran uang rupiah menjelang Idulfitri 2026 sangat tinggi. Hingga 13 Maret 2026, jumlah masyarakat yang melakukan penukaran melalui layanan resmi tercatat sekitar 1.076.282 orang. Angka ini meningkat sekitar 85,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 580.496 penukar. Data tersebut menunjukkan kebutuhan uang pecahan kecil masih besar di tengah masyarakat.
Untuk menertibkan proses penukaran, BI menyediakan aplikasi PINTAR BI yang memungkinkan masyarakat memesan jadwal penukaran secara daring. Pengguna dapat memilih lokasi dan waktu sesuai kuota yang tersedia, dengan tujuan membuat layanan lebih terjadwal dan mengurangi antrean panjang.
Namun, di lapangan banyak masyarakat mengaku kesulitan mendapatkan kuota penukaran melalui aplikasi karena kuota sering cepat habis akibat tingginya jumlah pengguna yang mengakses layanan dalam waktu hampir bersamaan. Situasi ini memunculkan fenomena “nge-war” kuota penukaran uang, sehingga sebagian warga beralih mencari alternatif lain.
Di tengah kondisi tersebut, layanan kas keliling tetap menjadi pilihan karena memungkinkan penukaran dilakukan secara langsung tanpa perlu pemesanan jadwal melalui aplikasi. Selama kuota penukaran masih tersedia, petugas akan melayani warga di lokasi. Bagi sebagian masyarakat, cara ini dinilai lebih praktis karena prosesnya sederhana dan tidak bergantung pada akses daring.
Menjelang musim mudik, BI juga menghadirkan layanan penukaran tambahan melalui program SERAMBI Peduli Mudik pada 16–17 Maret 2026. Program ini difokuskan pada 55 titik strategis di jalur arus mudik, seperti bandara, stasiun kereta api, terminal bus, pelabuhan, hingga rest area jalan tol. Penempatan layanan di jalur perjalanan ditujukan untuk memudahkan pemudik menukar uang pecahan kecil tanpa harus mencari kantor bank sebelum melanjutkan perjalanan.
Alasan lain kas keliling tetap diminati adalah karena layanan ini tidak mengenakan biaya tambahan. Masyarakat dapat menukar uang sesuai nominal yang dibawa tanpa potongan. Dalam layanan tersebut, masyarakat dapat menukar uang hingga Rp4 juta dalam berbagai pecahan, mulai dari Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, hingga Rp1.000 untuk kebutuhan Lebaran. Proses penukaran juga relatif mudah karena petugas meminta uang yang akan ditukar dalam kondisi rapi agar dapat dihitung oleh mesin.
BI mengingatkan masyarakat untuk menukar uang melalui layanan resmi BI maupun perbankan. Imbauan ini disampaikan seiring maraknya jasa penukaran uang tidak resmi di pinggir jalan pada musim Lebaran, yang dinilai memiliki risiko, mulai dari keaslian uang yang tidak terjamin, ketidakpastian jumlah lembaran, hingga potensi penipuan.
Tingginya minat masyarakat juga terlihat dari bertambahnya titik layanan penukaran. Jumlah titik layanan meningkat dari sekitar 5.202 pada tahun sebelumnya menjadi 9.294 layanan di berbagai wilayah. Penambahan ini dilakukan untuk memperluas jangkauan dan mempermudah masyarakat memperoleh uang pecahan baru menjelang Idulfitri.
Fenomena kas keliling yang tetap diburu meski layanan digital tersedia menunjukkan bahwa kebutuhan uang pecahan kecil saat Lebaran masih besar, sementara layanan daring belum selalu mudah diakses karena keterbatasan kuota. Dalam kondisi ini, kas keliling menjadi pelengkap penting agar kebutuhan penukaran dapat terpenuhi melalui kombinasi layanan daring dan luring.