BERITA TERKINI
Kajian: LPPM Perlu Bertransformasi dari Pengelola Hibah Menjadi Penggerak Ekosistem Inovasi Global Berbasis AI

Kajian: LPPM Perlu Bertransformasi dari Pengelola Hibah Menjadi Penggerak Ekosistem Inovasi Global Berbasis AI

Percepatan revolusi ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi berbasis inovasi dinilai menuntut perubahan peran lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (LPPM) di perguruan tinggi. LPPM tidak lagi cukup diposisikan sebagai unit administratif pengelola hibah, melainkan perlu bertransformasi menjadi penggerak inovasi yang mampu mengorkestrasi ekosistem riset, teknologi, dan dampak global secara terintegrasi, cerdas, dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan dalam kajian Dr. Mohamad Endy Julianto, ST, MT, dosen TRKI Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro. Ia menekankan perlunya pergeseran paradigma dari sekadar “mengelola penelitian” menjadi “menciptakan ekosistem inovasi global”. Dalam contoh yang ia rujuk, universitas kelas dunia seperti Massachusetts Institute of Technology dan National University of Singapore telah mengembangkan lembaga riset menjadi pusat orkestrasi inovasi yang menghubungkan riset, industri, dan pasar global dalam rantai nilai utuh, dari ide hingga komersialisasi.

Dalam kerangka LPPM modern, fondasi yang ditekankan adalah tata kelola riset yang baik (Good Research Governance) dengan indikator kinerja berbasis dampak global. Indikator tersebut mencakup publikasi bereputasi Q1/Q2, paten internasional (PCT), pendapatan lisensi, hingga lahirnya startup berbasis riset. Standar seperti ISO 56002 juga disebut sebagai acuan untuk memastikan sistem manajemen inovasi berjalan sistematis, terukur, dan berorientasi masa depan.

Selain tata kelola, arsitektur organisasi dinilai menjadi kunci transformasi. Menurut kajian itu, LPPM kelas dunia bukan berdiri sebagai satu entitas tunggal, tetapi sebagai ekosistem terintegrasi yang terdiri dari Research Management Office (RMO), Technology Transfer Office (TTO), Center of Excellence (CoE), serta unit pengabdian berbasis dampak sosial. Seluruh unit tersebut dihubungkan dalam satu alur inovasi (innovation pipeline) dari identifikasi masalah, riset, prototipe, validasi produk, pengembangan startup, hingga penciptaan dampak.

Digitalisasi diposisikan sebagai faktor pembeda penting. LPPM modern, dalam pandangan tersebut, memerlukan platform digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tidak hanya membantu administrasi, tetapi menjadi “otak” sistem yang menggerakkan ekosistem. Platform AI disebut dapat mendukung pemantauan riset secara real-time, pemetaan tren global, rekomendasi kolaborasi internasional, hingga analisis kelayakan komersialisasi teknologi. Dengan pendekatan AI-driven research intelligence, pengambilan keputusan diharapkan lebih berbasis data yang presisi dan terukur.

Kajian itu juga menyoroti perlunya peta jalan yang jelas dan realistis. Tahap awal diarahkan pada digitalisasi proses dan penguatan KPI global. Tahap berikutnya menekankan integrasi riset dengan industri serta penguatan hilirisasi. Pada fase puncak, LPPM diproyeksikan menjadi pemain global melalui kolaborasi internasional, pendanaan lintas negara, dan penciptaan startup berbasis teknologi.

Namun, transformasi tersebut dinilai tidak hanya soal sistem dan teknologi. Perubahan pola pikir disebut menjadi faktor penentu: dosen didorong tidak hanya menjadi peneliti, tetapi juga inovator dan venture builder; mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi ikut menciptakan solusi nyata; dan kampus diarahkan untuk berfokus pada pertanyaan “masalah dunia apa yang bisa diselesaikan”.

Budaya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara juga ditekankan sebagai fondasi untuk membangun reputasi internasional. Jejaring global, joint research, dan kemitraan industri dipandang penting agar inovasi tidak berhenti pada lingkup lokal.

Pada akhirnya, LPPM masa depan digambarkan sebagai ekosistem hidup yang berbasis data, terhubung dengan industri, berjejaring global, dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Jika dijalankan konsisten selama 5–10 tahun, kajian tersebut menilai universitas di Indonesia, termasuk Universitas Diponegoro, berpeluang tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat inovasi yang melahirkan teknologi, industri baru, dan solusi strategis bagi tantangan global.