BERITA TERKINI
Kadin Jatim Nilai Adopsi Riset oleh Industri Masih Minim, Dorong Pendekatan Demand-Driven

Kadin Jatim Nilai Adopsi Riset oleh Industri Masih Minim, Dorong Pendekatan Demand-Driven

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menilai adopsi hasil riset oleh industri masih sangat minim. Menurutnya, banyak riset berhenti pada tahap publikasi dan belum diimplementasikan secara luas, padahal sinergi antara dunia riset dan industri dibutuhkan untuk mendorong transformasi ekonomi di Jawa Timur.

Pernyataan tersebut disampaikan Adik dalam paparan bertajuk “Dari Riset ke Dampak: Sinergi Inovasi dan Industri untuk Transformasi Jawa Timur” pada kegiatan Dialog Strategis “Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Week Universitas Airlangga” di Kampus Unair, Surabaya.

Adik memaparkan, secara makro posisi Jawa Timur dalam perekonomian nasional dinilai strategis. Pada 2025, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur disebut mencapai sekitar Rp3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 5,33%. Jawa Timur juga menjadi salah satu kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dari sisi struktur ekonomi, sektor industri pengolahan disebut menyumbang sekitar 31%, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi hingga 60%. Adik juga menyoroti sektor transportasi dan logistik yang tumbuh di atas 9%, yang menurutnya menunjukkan menguatnya peran Jawa Timur sebagai pusat distribusi.

“Peran strategis Jawa Timur semakin terlihat sebagai hub manufaktur dan logistik di kawasan Indonesia Timur, sekaligus menjadi basis utama ekspor nasional. Dengan fondasi itu, Jawa Timur dinilai telah memiliki kekuatan skala ekonomi yang solid,” kata Adik, Rabu (15/4).

Meski demikian, ia menilai masih ada tantangan yang perlu diselesaikan, yakni meningkatkan kelas ekonomi melalui inovasi yang berdampak pada efisiensi di berbagai sektor. Adik menyebut, peningkatan efisiensi sebesar 1% saja diperkirakan dapat memberikan dampak ekonomi hingga puluhan triliun rupiah.

Adik menilai persoalan mendasar yang menghambat optimalisasi potensi tersebut adalah kesenjangan antara riset dan industri. Ia menyebut kapasitas riset terus meningkat, tetapi banyak hasil riset belum diimplementasikan. Keterlibatan industri dalam proses riset juga dinilai masih minim sehingga tingkat adopsi hasil penelitian rendah.

Selain itu, ia menyoroti belum adanya mekanisme hilirisasi yang kuat, yang membuat hasil riset sulit diterjemahkan menjadi produk atau solusi bernilai ekonomi. Kondisi tersebut, menurutnya, menyebabkan ketimpangan: Indonesia, termasuk Jawa Timur, kuat menghasilkan output riset, namun lemah dalam menciptakan dampak ekonomi nyata.

Untuk menjembatani kesenjangan itu, Adik mendorong kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah agar inovasi yang dihasilkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Ia juga menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam transformasi riset di Jawa Timur. Pendekatan lama yang bersifat supply-driven, ketika akademisi menentukan topik riset, dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan ekonomi. Karena itu, ia mendorong pendekatan demand-driven yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.