BERITA TERKINI
Kadin Jatim Dorong Riset Berorientasi Kebutuhan Industri untuk Perkuat Dampak Ekonomi

Kadin Jatim Dorong Riset Berorientasi Kebutuhan Industri untuk Perkuat Dampak Ekonomi

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyoroti masih rendahnya tingkat adopsi hasil riset oleh sektor industri. Banyak penelitian dinilai berhenti pada tahap publikasi dan belum memberi dampak nyata bagi penguatan ekonomi.

Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan serius di tengah upaya mendorong transformasi ekonomi berbasis inovasi. Menurutnya, sinergi antara dunia riset dan industri perlu diperkuat agar hasil penelitian bisa diimplementasikan secara luas.

Pernyataan itu disampaikan Adik dalam paparan bertajuk “Dari Riset ke Dampak: Sinergi Inovasi dan Industri untuk Transformasi Jawa Timur” pada Dialog Strategis Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Week Universitas Airlangga di Surabaya, Selasa (14/4).

Secara makro, Adik menyampaikan Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional. Pada 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur tercatat sekitar Rp3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 5,33 persen. Provinsi ini juga disebut menjadi salah satu kontributor utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Dari struktur ekonomi, sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 31 persen, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi hingga 60 persen. Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik tumbuh di atas 9 persen, yang menegaskan peran Jawa Timur sebagai pusat distribusi nasional, khususnya untuk kawasan Indonesia Timur.

“Jawa Timur memiliki fondasi ekonomi yang kuat sebagai hub manufaktur dan logistik. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kelas ekonomi melalui inovasi yang mampu menciptakan efisiensi,” ujar Adik.

Ia menambahkan, peningkatan efisiensi sebesar satu persen berpotensi memberikan dampak ekonomi hingga puluhan triliun rupiah. Namun, potensi tersebut dinilai belum optimal karena masih lebarnya kesenjangan antara hasil riset dan kebutuhan industri.

Menurut Adik, meski kapasitas riset terus berkembang, keterlibatan industri dalam proses penelitian masih terbatas. Akibatnya, banyak hasil riset tidak terserap dan sulit diimplementasikan menjadi produk atau solusi bernilai ekonomi. Selain itu, mekanisme hilirisasi juga dinilai belum kuat, sehingga output riset belum berujung pada dampak ekonomi yang nyata.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kadin Jatim mendorong perubahan paradigma riset dari pendekatan supply-driven menjadi demand-driven research, dengan kebutuhan industri sebagai dasar utama penentuan arah penelitian.

“Ke depan, riset harus berbasis pada kebutuhan nyata industri. Pelaku usaha perlu dilibatkan sejak awal agar hasilnya relevan dan dapat langsung diadopsi,” kata Adik.

Dalam skema ini, Kadin mengambil peran sebagai agregator kebutuhan industri sekaligus penghubung antara dunia akademik dan sektor usaha. Kadin juga berfungsi sebagai fasilitator untuk mendorong implementasi hasil riset di lapangan.

Adik menyebut terdapat tujuh prioritas agenda riset strategis, antara lain inovasi produk untuk meningkatkan nilai tambah industri, inovasi proses produksi guna mendorong efisiensi, serta inovasi pemasaran berbasis digital dan penetrasi pasar global. Fokus lainnya meliputi pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), penerapan prinsip keberlanjutan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), penguatan tata kelola dan regulasi, serta pengembangan sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan industri.

Untuk memastikan implementasi berjalan efektif, Kadin bersama pemangku kepentingan menyiapkan sejumlah langkah konkret. Di antaranya pembentukan Industrial Problem Bank sebagai basis data kebutuhan industri, serta Joint Research Task Force yang melibatkan perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga dan lembaga riset nasional.

Langkah lainnya adalah pengembangan proyek percontohan hilirisasi riset, termasuk komersialisasi hasil penelitian, program inkubasi, hingga adopsi langsung oleh industri. Skema tersebut juga disebut didukung pendanaan hibah riset terapan dari pemerintah.

“Melalui pendekatan ini, kami berharap tercipta ekosistem inovasi yang terintegrasi, di mana riset tidak hanya berhenti sebagai publikasi, tetapi mampu menghadirkan solusi konkret bagi industri dan mendorong daya saing ekonomi Jawa Timur,” pungkas Adik.