Industri ritel di Indonesia disebut tengah mengalami pergeseran, ketika merek-merek lokal mulai menantang dominasi brand internasional yang selama ini kuat di pasar. Pergeseran ini dinilai bukan sekadar tren sesaat, melainkan evolusi pasar yang membuka ruang persaingan baru bagi pemain domestik yang dinilai lebih dekat dengan kebutuhan konsumen.
Pendiri sekaligus CEO Jete, Jhonny Thio Doran, menilai momentum tersebut sebagai peluang besar bagi brand lokal. Menurutnya, kedekatan dengan konsumen membuat merek dalam negeri memiliki keunggulan kompetitif, terutama dalam merespons perubahan tren. Ia menilai perusahaan multinasional kerap menghadapi kendala birokrasi yang membuat proses pengambilan keputusan lebih panjang.
Dalam keterangannya kepada media pada Minggu, 5 Maret 2026, Jhonny menyampaikan bahwa salah satu pilar strategi Jete adalah membangun ikatan emosional dengan konsumen, melampaui hubungan transaksi jual-beli. Ia menekankan, bisnis tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga menciptakan keterlibatan aktif melalui inisiatif yang terhubung dengan keseharian audiens.
Contoh pendekatan tersebut, antara lain penyelenggaraan acara lari bertajuk Jete Run yang disebut menjadi agenda rutin sejak 2024. Acara ini diklaim menarik ribuan peserta serta merangkul komunitas pelari dari berbagai daerah, sekaligus mengaitkan gaya hidup aktif dengan identitas brand.
Jhonny berpendapat, ketika konsumen merasa menjadi bagian dari sebuah brand, mereka akan merasa lebih dihargai dan terdorong membangun loyalitas. Ikatan emosional itu, menurutnya, dapat membuat konsumen secara sukarela menjadi duta merek.
Selain kedekatan emosional, Jete juga menyoroti kecepatan eksekusi sebagai keunggulan brand lokal. Struktur organisasi yang lebih ramping dan fleksibel disebut memungkinkan pengambilan keputusan strategis dilakukan lebih cepat, mulai dari menangkap tren produk, menyesuaikan harga, hingga menjalankan strategi pemasaran, termasuk evaluasinya dalam waktu singkat.
Jhonny menambahkan, kecepatan tidak hanya berarti bergerak lebih gesit, tetapi juga kemampuan untuk terus belajar dari setiap langkah yang dilakukan. Proses pembelajaran berkelanjutan itu dinilai penting agar penyesuaian bisa dilakukan dengan cepat demi menjaga relevansi di tengah dinamika pasar.
Aspek lain yang ditekankan adalah distribusi yang merata dan aksesibilitas produk. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, Jete menyebut upaya memperluas jangkauan dilakukan melalui pembukaan gerai fisik di berbagai kota untuk memberi kemudahan akses dan rasa aman bagi konsumen. Jhonny menilai keberhasilan brand tidak hanya diukur dari popularitas, tetapi juga dari seberapa sering brand hadir dan terintegrasi dalam rutinitas harian konsumen.
Jete juga menilai konsumen modern tidak semata mencari harga, melainkan nilai tambah di luar fungsi dasar produk. Dengan memahami karakter pasar lokal, perusahaan mengklaim berupaya menghadirkan produk yang fungsional sekaligus selaras dengan gaya hidup masyarakat. Kepercayaan publik, menurut Jete, turut diperkuat melalui layanan purna jual yang responsif, termasuk layanan pelanggan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, serta kemudahan klaim garansi di berbagai kota.
Dengan fondasi di pasar domestik, Jete menyatakan melihat peluang untuk merambah pasar global. Namun, Jhonny menegaskan ekspansi itu membutuhkan kesiapan operasional dan tata kelola bisnis yang matang. Ia menilai penguasaan pasar dalam negeri menjadi pijakan penting sebelum bersaing di tingkat internasional, karena pemahaman terhadap kebutuhan konsumen serta sistem bisnis yang kuat dinilai menjadi bekal utama untuk melangkah lebih jauh.