Ketegangan antara Donald Trump dan pemerintah Iran memunculkan kekhawatiran baru soal potensi krisis digital global. Menjelang berakhirnya ultimatum yang disebut-sebut mengancam infrastruktur energi Iran, Teheran menyampaikan peringatan keras terkait kemungkinan gangguan terhadap jaringan kabel internet bawah laut di kawasan strategis.
Peringatan itu disampaikan Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei. Ia menyatakan bahwa jika fasilitas energi negaranya diserang, Iran dapat menargetkan kabel serat optik bawah laut yang melintasi Teluk Persia, Laut Merah, hingga Laut Mediterania. Jalur tersebut dikenal sebagai salah satu rute penting yang menyalurkan sebagian besar lalu lintas data global.
Sejumlah analis menilai, gangguan pada infrastruktur kabel bawah laut berpotensi menimbulkan dampak luas. Risiko yang disebut mencakup terganggunya layanan internet, hambatan pada sistem keuangan internasional, serta gangguan operasional perusahaan teknologi besar seperti Google, Amazon, dan Microsoft.
Meski demikian, beberapa pakar menekankan bahwa skenario “pemadaman total internet dunia” dinilai kecil kemungkinannya. Alasannya, jaringan global memiliki jalur alternatif dan sistem redundansi yang memungkinkan pengalihan trafik data ketika terjadi gangguan.
Ahli keamanan siber juga mengingatkan bahwa perbaikan kabel bawah laut di wilayah konflik dapat menjadi sangat sulit dan memakan waktu lama. Namun operator jaringan internasional umumnya memiliki mekanisme pengalihan rute (rerouting) melalui jalur lain, termasuk kabel darat dan satelit, untuk meminimalkan dampak.
Hingga kini, situasi masih berkembang dan belum ada konfirmasi mengenai tindakan nyata terkait ancaman tersebut. Laporan Reuters dan Associated Press menyebut pelaku industri teknologi meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan skenario mitigasi risiko.