Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) mencatat capaian baru setelah inovasi yang mereka kembangkan masuk dalam daftar “117 Inovasi Indonesia 2025”. Program nasional ini diselenggarakan Business Innovation Center (BIC) untuk menjaring dan mengapresiasi karya inovatif dari peneliti, akademisi, hingga praktisi di Indonesia yang dinilai berpotensi memberi dampak bagi masyarakat.
Inovasi UB tersebut berjudul “Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital (HK) Berbasis Antibodi Poliklonal Hasil Induksi Protein Rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH) dengan Metode ELISA.” Riset ini menargetkan pengembangan metode deteksi dini yang lebih sensitif dan spesifik untuk hipotiroid kongenital, yakni gangguan hormon tiroid yang terjadi sejak bayi lahir. Kondisi ini disebut dapat memicu keterlambatan pertumbuhan fisik maupun perkembangan intelektual anak apabila tidak terdeteksi sejak awal.
Penelitian dipimpin Prof. Dr. Aulanni’am bersama tim peneliti multidisiplin dari UB. Menurut Aulanni’am, riset ini berfokus pada pengembangan sistem deteksi berbasis antibodi poliklonal yang dihasilkan dari induksi protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH). Antibodi tersebut kemudian dimanfaatkan dalam sistem analisis dengan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mendeteksi biomarker yang berkaitan dengan gangguan hormon tiroid pada bayi.
“Hipotiroid kongenital merupakan salah satu gangguan endokrin yang perlu dideteksi sedini mungkin karena dapat memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Melalui inovasi ini, kami berupaya mengembangkan metode deteksi yang lebih akurat dan berpotensi mendukung program skrining kesehatan bayi di Indonesia,” ujar Prof. Aulanni’am.
Ia menambahkan, teknologi berbasis protein rekombinan yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan kit diagnostik biomedis berbasis riset dalam negeri. “Pengembangan teknologi berbasis protein rekombinan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan kit diagnostik biomedis berbasis riset dalam negeri yang lebih terjangkau dan dapat diaplikasikan secara luas di fasilitas kesehatan,” lanjutnya.
Inovasi ini dikerjakan tim lintas disiplin yang melibatkan pakar dari bidang kimia, kedokteran, hingga kesehatan masyarakat. Tim tersebut terdiri dari Prof. Dr. Aulanni'am, drh., DES; Dr. Dyah Kinasih Wuragil, S.Si., MP., M.Sc; Prof. Dr. dr. Achmad Rudijanto, Sp.PD-KEMD; dr. Rulli Rosandi, Sp.PD-KEMD; dr. Andreas Budi Wijaya, M.Biomed, Sp.A; Almas Dwi Khairana, S.Si., M.Si; Wibi Riawan, S.Si., M.Biomed; Dr. rer.pol. Romy Hermawan, S.Sos., M.AP; Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc; Muhammad Fikri Nur, S.Si; Assoc. Prof. Anna Safitri, S.Si., M.Sc., Ph.D; serta Dr. dr. Zulkarnain, M.Sc., AIFO-K. Kolaborasi lintas bidang ini dinilai menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan inovasi tersebut.
Program “117 Inovasi Indonesia 2025” merupakan agenda tahunan untuk mengidentifikasi serta mempromosikan inovasi terbaik di Indonesia. Tahun ini, proses penjurian berlangsung dalam dua tahap. Setiap proposal dinilai oleh tiga juri independen pada Januari 2026 melalui evaluasi daring. Dari 182 proposal inovasi yang diajukan sepanjang 2025, sebanyak 55 proposal lolos ke seleksi lanjutan, dan 51 proposal kemudian ditetapkan sebagai inovasi terpilih.
Ketua Departemen Kimia FMIPA UB, Assoc. Prof. Anna Safitri, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tim peneliti UB dalam ajang tersebut. Menurutnya, capaian ini menunjukkan riset di Departemen Kimia UB tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu dasar, tetapi juga menghasilkan inovasi yang berdampak pada sektor kesehatan. “Keberhasilan inovasi ini menjadi bukti bahwa riset di Departemen Kimia Universitas Brawijaya tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu dasar, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung pada bidang kesehatan. Kami berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan hingga tahap hilirisasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.
UB berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut hingga tahap produksi dan pemanfaatan yang lebih luas di fasilitas layanan kesehatan. Masuknya inovasi ini ke dalam daftar “117 Inovasi Indonesia 2025” juga dinilai memperkuat posisi UB sebagai perguruan tinggi yang aktif menghasilkan inovasi berbasis riset, sekaligus mendorong pengembangan produk diagnostik kesehatan berbasis penelitian dalam negeri.