BERITA TERKINI
Indonesia–Inggris Gelar Forum Translasi Riset untuk Percepat Inovasi Kesehatan dan Pengembangan Obat

Indonesia–Inggris Gelar Forum Translasi Riset untuk Percepat Inovasi Kesehatan dan Pengembangan Obat

Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama internasional untuk mempercepat hilirisasi riset di bidang kesehatan dan pengembangan obat. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Indonesia–United Kingdom (UK) Research Translation Forum 2026 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama British Council.

Forum bertajuk Building Equitable Indonesia–UK Pathways for Health Sector Innovation and Drug Development Translation ini diarahkan untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri kesehatan. Dengan pendekatan tersebut, inovasi diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menyatakan kolaborasi riset internasional perlu difokuskan untuk meningkatkan kualitas sekaligus dampak riset nasional. Ia mengatakan pemerintah akan berfokus pada program riset berbasis tantangan (challenge-based research program) yang bersifat multidisipliner, melibatkan kolaborasi lintas institusi, serta didukung kemitraan internasional guna memperkuat daya saing nasional.

Menurut Fauzan, kemitraan dengan berbagai institusi di Inggris membuka peluang peningkatan kapasitas peneliti Indonesia, transfer teknologi, serta pengembangan skema pendanaan riset kolaboratif. Ia menambahkan, strategi tersebut dirancang untuk menjawab tantangan di sektor kesehatan nasional, mulai dari peningkatan kualitas layanan hingga pengembangan inovasi berbasis riset yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

Percepatan hilirisasi riset kesehatan ini disebut sejalan dengan agenda transformasi pendidikan tinggi dan sains nasional melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang diwujudkan dalam misi Riset Berdampak. Kebijakan ini mendorong perguruan tinggi dan lembaga riset agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri serta tantangan kesehatan masyarakat.

Kemdiktisaintek juga menyiapkan dukungan kebijakan untuk mempercepat translasi riset, mulai dari penguatan regulasi, insentif pendanaan, hingga fasilitasi kemitraan dengan industri farmasi dan teknologi kesehatan.

Dalam forum tersebut, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia, menilai Indonesia memiliki posisi penting dalam ekosistem kolaborasi riset kesehatan global. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi ilmiah, antara lain populasi yang luas, kapasitas klinis yang memadai, serta reformasi regulasi yang terus berkembang, meski di saat yang sama menghadapi tantangan kesehatan dan ekonomi.

Lucia menekankan Indonesia dan Inggris dinilai dapat saling melengkapi dalam seluruh spektrum translasi riset. Ia menyatakan, dengan menyelaraskan kekuatan pada tahap tingkat kesiapterapan teknologi (TRL/TKT) tertentu, kedua negara dapat mengembangkan, memvalidasi, dan menghadirkan inovasi kesehatan yang berdampak secara ilmiah, komersial, maupun sosial.

Sementara itu, peneliti Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Reza Yuridian Purwoko, menyoroti pentingnya memanfaatkan keunggulan masing-masing negara. Ia mengatakan Inggris memiliki sistem pengembangan dan penyampaian riset klinis yang matang serta jalur adopsi inovasi yang kuat. Adapun Indonesia, menurutnya, memiliki keunggulan berupa populasi yang besar dan beragam, kebutuhan kesehatan yang tinggi, serta kekayaan biodiversitas yang berpotensi menjadi sumber pengembangan obat baru.

Reza menyebut fokus utama kolaborasi berada pada fase TRL atau TKT 4 hingga 6, yang mencakup tahap validasi, uji coba, hingga peningkatan skala (scale-up).

Melalui sinergi Kemdiktisaintek, Kementerian Kesehatan, BRIN, dan mitra internasional, pemerintah berharap dapat membangun jalur inovasi kesehatan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Upaya ini juga diharapkan memperkuat kedaulatan kesehatan Indonesia di tingkat global.