Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi momentum refleksi bagi para guru perempuan di TK Santa Maria Tulungagung, di tengah tantangan pendidikan anak usia dini yang kian kompleks. Salah satu isu yang mengemuka adalah perubahan perilaku anak akibat perkembangan teknologi yang pesat.
Para pendidik menilai kedekatan anak dengan gadget semakin tinggi, sementara interaksi sosial cenderung berkurang. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap menurunnya kemampuan komunikasi, empati, serta semangat belajar anak sejak usia dini.
Guru TK Santa Maria, Dominika Apri Liya Kristiani, mengatakan semangat juang Kartini dinilai tetap relevan untuk ditanamkan kepada generasi saat ini. Menurutnya, peran guru perempuan bukan hanya mengajar, tetapi juga membentuk karakter anak agar memiliki nilai moral dan sosial yang kuat.
“Banyak anak yang mulai individualis karena terlalu sering berinteraksi dengan gadget, sehingga perlu pendekatan khusus agar mereka kembali aktif bersosialisasi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Untuk menjawab tantangan tersebut, para guru membentuk komunitas pendidik sebagai ruang berbagi pengalaman dan penguatan metode pembelajaran. Pendekatan yang diterapkan menekankan metode belajar yang menyenangkan, seperti permainan edukatif dan pembiasaan membaca sejak dini.
Selain itu, penanaman nilai kesetaraan, kepercayaan diri, dan semangat belajar terus dikuatkan dalam keseharian anak. Para guru berharap upaya tersebut dapat menciptakan keseimbangan antara kecerdasan digital dan kecakapan sosial.
Keterlibatan orang tua juga terus didorong agar pendidikan karakter berjalan konsisten, baik di rumah maupun di sekolah. Dengan semangat Kartini masa kini, para pendidik perempuan berupaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga berkarakter kuat menuju Indonesia Emas 2045.