Guru Besar Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Prof Dr Eny Syatriana, M.Pd, menjadi pembicara tamu dalam kegiatan guest lecture hasil kolaborasi Unismuh Makassar dan Politeknik Besut, Terengganu, Malaysia, pada 15–16 April 2026.
Dalam presentasi berjudul A Comprehensive Review of Five Educational Approaches: From Pedagogy to Cybergogy, Eny memaparkan lima pendekatan pendidikan modern, yakni pedagogy, andragogy, peeragogy, heutagogy, dan cybergogy. Ia menilai kelima pendekatan tersebut penting untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 yang terus berubah seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut Eny, tidak ada satu pendekatan yang memadai jika diterapkan secara tunggal. Dunia pendidikan, kata dia, memerlukan kombinasi strategi pembelajaran yang lentur agar mampu menjawab kebutuhan peserta didik yang beragam.
“Pendekatan pembelajaran perlu dirancang secara fleksibel, terutama untuk menyesuaikan karakter peserta didik, konteks belajar, dan tuntutan keterampilan abad modern,” ujarnya.
Eny juga menyebut lima pendekatan tersebut relevan diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris serta pengembangan kompetensi abad ke-21, termasuk kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital.
Dalam pemaparannya, ia menyoroti masih terbatasnya penelitian empiris mengenai penerapan terpadu kelima pendekatan itu, terutama di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, ia mendorong pengembangan model pembelajaran baru yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga peka terhadap kebutuhan lokal dan konteks budaya.
Dari pihak Politeknik Terengganu, anggota tim riset Nor Rulmaisura binti Mohammad menilai kegiatan research camp yang terjalin antara kedua institusi memberikan inspirasi bagi para peneliti.
“Kerja sama ini sangat memberi inspirasi kepada tim riset kami, terutama dalam membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas,” katanya.
Kegiatan guest lecture tersebut disebut mendapat sambutan positif dari peserta yang terdiri atas dosen, guru, mahasiswa, dan praktisi pendidikan dari Indonesia dan Malaysia. Forum itu menjadi ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan perspektif mengenai masa depan pendidikan di kawasan regional.
Kerja sama akademik lintas negara seperti ini diharapkan berlanjut sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, kolaborasi semacam itu dinilai penting untuk mendorong lahirnya sistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berbasis teknologi.