Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Internet, media sosial, dan perangkat seperti ponsel pintar membuat berita, hiburan, hingga pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat dan praktis. Di satu sisi, kemudahan ini membantu mempercepat komunikasi serta memperluas akses terhadap berbagai sumber informasi. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru, salah satunya terkait kebiasaan membaca.
Kekhawatiran belakangan ini mengarah pada menurunnya minat baca, terutama di kalangan generasi muda. Banyak anak dan remaja dinilai lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai dibanding membaca buku. Fenomena ini terlihat di berbagai lingkungan, mulai dari rumah, sekolah, hingga ruang publik, ketika perhatian lebih banyak tertuju pada layar ponsel daripada bahan bacaan yang ada di sekitar mereka. Perubahan ini menunjukkan pergeseran cara generasi muda memanfaatkan waktu senggang.
Kelompok yang tumbuh bersama perkembangan perangkat digital kerap disebut sebagai “generasi gadget”. Sejak dini, mereka terbiasa menggunakan gawai bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga bermain, belajar, dan mencari informasi. Kedekatan dengan perangkat digital membuat interaksi dengan layar menjadi lebih dominan. Dalam situasi ini, minat baca dinilai ikut terpengaruh, terutama karena pola konsumsi informasi bergeser ke konten yang singkat, cepat, dan menarik secara visual.
Perubahan kebiasaan membaca tersebut dikhawatirkan berdampak pada kemampuan literasi. Membaca dipandang berperan penting untuk membantu seseorang memahami informasi secara lebih mendalam, memperluas wawasan, dan melatih kemampuan berpikir kritis. Karena itu, kebiasaan membaca dinilai tetap perlu dipelihara meskipun teknologi terus berkembang.
Upaya menumbuhkan kembali minat baca dinilai tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Keluarga, sekolah, dan masyarakat disebut perlu bekerja sama menciptakan lingkungan yang mendukung budaya membaca. Kolaborasi ini dipandang penting agar kebiasaan membaca dapat kembali tumbuh sekaligus memperkuat kemampuan literasi generasi muda.
Di lingkungan keluarga, peran orang tua disebut menjadi fondasi untuk membentuk kebiasaan membaca pada anak. Sementara di sekolah, guru dapat mendorong siswa lebih aktif membaca melalui kegiatan pembelajaran, termasuk program literasi seperti membaca sebelum pelajaran dimulai. Dukungan juga dibutuhkan dari masyarakat melalui keberadaan perpustakaan, taman bacaan, serta kegiatan literasi yang menyediakan akses dan ruang bagi masyarakat untuk dekat dengan buku.
Di tengah era digital, teknologi juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendorong minat baca. Buku elektronik, artikel pengetahuan, dan sumber bacaan digital kini dapat diakses melalui internet di ponsel pintar. Jika digunakan secara bijak, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas kesempatan membaca, bukan sekadar media hiburan. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, generasi gadget diharapkan tetap dapat tumbuh menjadi generasi yang berwawasan luas dan memiliki kebiasaan membaca.