BERITA TERKINI
Gedung Putih Luncurkan Aplikasi “The White House”, Menuai Kritik soal Privasi

Gedung Putih Luncurkan Aplikasi “The White House”, Menuai Kritik soal Privasi

Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih meluncurkan aplikasi mobile bernama The White House yang memungkinkan publik mengikuti aktivitas Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya langsung dari ponsel. Aplikasi ini diumumkan pada Jumat (27/3/2026) waktu setempat.

Dalam keterangannya, Gedung Putih menyatakan aplikasi tersebut dirancang untuk memberi akses langsung kepada masyarakat terhadap informasi pemerintah tanpa perantara. “Dari Oval Office langsung ke ponsel Anda, aplikasi resmi The White House adalah cara tercepat dan paling kuat untuk tetap terinformasi dan terhubung dengan pemerintahan,” tulis pihak Gedung Putih.

Secara tampilan, aplikasi ini pada dasarnya merupakan versi mobile dari situs resmi Gedung Putih, namun dilengkapi sejumlah fitur tambahan. Pengguna dapat menerima notifikasi terkait kebijakan dan keputusan presiden, menonton siaran langsung konferensi pers, pidato, dan acara resmi, serta mengakses galeri media berisi foto dan video.

Aplikasi ini juga menyediakan rilis pers dan pengumuman resmi, serta kanal untuk mengirim masukan langsung kepada pemerintah. Selain itu, terdapat fitur informasi harga barang kebutuhan (affordability) dan layanan berlangganan newsletter resmi.

Di dalam aplikasi, tersedia pula tautan menuju layanan pelaporan milik U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE). Fitur tersebut mengarahkan pengguna ke halaman resmi ICE untuk melaporkan dugaan pelanggaran imigrasi. Pengguna juga bisa “mengirim pesan” kepada Presiden Donald Trump, meski fitur itu hanya mengarah ke formulir kontak resmi.

Saat ini, aplikasi resmi The White House sudah tersedia untuk diunduh melalui Apple App Store (iOS) dan Google Play Store (Android).

Meski dinilai praktis karena menawarkan pembaruan langsung dari pemerintah, aplikasi ini juga menuai kritik terkait privasi dan keamanan data pengguna. Sebuah laporan dari akun X @DiligentDenizen menyebut aplikasi tersebut meminta sejumlah izin yang dinilai sensitif, termasuk akses lokasi presisi, jaringan perangkat, hingga data biometrik seperti sidik jari.