BERITA TERKINI
Gadget Kian Melekat dalam Hidup, Pakar Ingatkan Risiko Ketergantungan pada Anak dan Remaja

Gadget Kian Melekat dalam Hidup, Pakar Ingatkan Risiko Ketergantungan pada Anak dan Remaja

Denpasar—Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Gadget yang semula hadir untuk mempermudah komunikasi, pekerjaan, hingga pendidikan, kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun, di balik manfaatnya, muncul kekhawatiran mengenai dampak penggunaan gadget yang berlebihan, terutama pada anak dan remaja.

Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 7 Mei 2026, Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ (K), Mars, menyampaikan bahwa angka kecanduan gadget terus meningkat. Ia memperkirakan sekitar 20 hingga 35 persen masyarakat mengalami ketergantungan terhadap gadget, dengan angka tertinggi pada remaja dan dewasa muda. Menurutnya, percepatan penggunaan teknologi yang semula disyukuri karena membantu komunikasi dan pembelajaran juga membawa konsekuensi negatif.

Ia menjelaskan, lonjakan penggunaan gadget terjadi sejak masa pandemi COVID-19 ketika banyak aktivitas beralih ke daring. Kebiasaan itu membuat masyarakat semakin terbiasa hidup berdampingan dengan layar digital.

Perubahan yang terjadi, kata Cokorda Bagus, tidak hanya menyangkut intensitas penggunaan telepon genggam, tetapi juga memengaruhi cara berpikir dan perilaku generasi muda. Anak-anak kini tumbuh dengan akses informasi yang sangat cepat dan luas, sehingga pola komunikasi dengan orang tua ikut berubah. Jika sebelumnya anak banyak belajar dari keluarga dan lingkungan sekitar, kini “dunia pembandingnya” adalah dunia maya dengan miliaran informasi yang dapat diakses dalam hitungan detik.

Sementara itu, dr. Made Peri Ardiana K. menilai kecanduan gadget dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pergaulan sosial, hingga desain aplikasi digital yang memang dirancang untuk membuat pengguna terus berinteraksi dengan layar.

Ia mencontohkan fenomena fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal informasi yang mendorong seseorang terus memeriksa gadget. Menurutnya, fitur-fitur aplikasi saat ini dibuat agar orang terus menonton dan sulit berhenti, sehingga ketergantungan dapat muncul tanpa disadari.

Dari sisi lain, Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ (K), menekankan bahwa persoalan gadget tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada anak. Ia menilai peran keluarga sangat menentukan dalam membentuk pola penggunaan teknologi yang sehat. Orang tua, kata dia, perlu menyediakan waktu untuk berbicara, bercanda, dan membangun kedekatan dengan anak.

Ia juga menyoroti kesibukan orang tua yang kerap membuat gadget dijadikan pengganti kehadiran keluarga di rumah. Padahal, anak membutuhkan interaksi langsung untuk berkembang secara emosional dan sosial.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, masyarakat dihadapkan pada tantangan untuk memanfaatkan gadget secara bijak tanpa kehilangan kendali. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia, bukan justru menjauhkan manusia dari kehidupan sosial dan keluarganya.