Suasana kafe yang riuh pada malam hari kini kerap diiringi pemandangan baru: sekelompok anak muda yang tak hanya membuka media sosial atau bermain gim di ponsel, tetapi juga memantau pergerakan investasi melalui aplikasi. Gadget yang sebelumnya identik dengan hiburan perlahan beralih fungsi menjadi alat belajar mengelola keuangan dan menyiapkan masa depan.
Pengamat ekonomi sekaligus akademisi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai tren tersebut sebagai sinyal positif di tengah tantangan finansial generasi muda. Meski begitu, ia mengingatkan budaya konsumtif masih menjadi kendala utama masyarakat untuk mulai berinvestasi. Di kalangan generasi Z, kebiasaan nongkrong bahkan kerap dianggap sebagai pengeluaran rutin.
“Tidak ada masalah dengan hal tersebut, namun generasi sekarang tetap perlu memiliki rencana investasi untuk masa depan,” kata Gunawan.
Rencana semacam itu mulai dijalankan Ziddan, mahasiswa di Medan yang membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Sejak 2025, ia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk masuk ke pasar modal melalui Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Menurutnya, reksa dana terasa lebih cocok untuk pemula karena lebih praktis dan tidak menuntut analisis pasar yang rumit. Ia pun memulai dari nominal kecil, yakni Rp100 ribu.
“Coba-coba seratus ribu dululah,” kata Ziddan.
Gunawan menilai generasi muda yang kerap disebut iGen atau generasi internet memiliki keuntungan dibanding generasi sebelumnya karena tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Smartphone yang selalu berada dalam genggaman bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal investasi. Berbagai instrumen keuangan kini dapat diakses melalui aplikasi, termasuk untuk memantau perkembangan investasi secara praktis.
Namun, kemudahan tersebut juga disertai risiko. Gunawan mengingatkan investor pemula tetap perlu memahami risiko sebelum menempatkan dana. Ia menilai fenomena fear of missing out (FOMO) masih menjadi kesalahan yang sering terjadi, termasuk kebiasaan membeli instrumen investasi hanya karena sedang ramai dibicarakan atau mengikuti tren. Selain itu, sebagian investor pemula dinilai terlalu percaya diri terhadap pengetahuan yang dimiliki, padahal belum memahami kondisi pasar secara utuh.
“Kesalahan yang kerap dilakukan investor pemula umumnya tidak memahami risiko dengan baik, ikut-ikutan membeli efek yang sedang tren, dan tidak disiplin menjalankan investasinya,” ujarnya.
Di tengah banyaknya pilihan instrumen, Gunawan menilai reksa dana menjadi salah satu opsi yang relatif aman bagi pemula. Selain modalnya terjangkau, pengelolaan dana dilakukan oleh manajer investasi profesional yang memiliki izin dan pengalaman di pasar modal. Menurutnya, reksa dana juga dapat menjadi sarana belajar untuk memahami potensi keuntungan dan risiko di pasar keuangan.
“Reksa dana biasanya menjadi instrumen investasi awal karena dapat memberikan edukasi sekaligus pengalaman bagi investor pemula,” kata Gunawan.
Untuk pemula, jenis yang kerap direkomendasikan adalah Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) karena risikonya relatif rendah dan dinilai cocok untuk belajar maupun menyiapkan dana darurat. Sementara itu, Reksa Dana Pendapatan Tetap dipilih investor yang menginginkan potensi imbal hasil lebih stabil dengan risiko yang masih terukur. Selain itu terdapat Reksa Dana Campuran yang portofolionya beragam, serta Reksa Dana Saham yang berisiko lebih tinggi namun menawarkan potensi keuntungan lebih besar dalam jangka panjang.
Gunawan mencontohkan, bagi yang tertarik masuk ke saham, Reksa Dana Saham dapat menjadi tahap awal untuk mempelajari pergerakan pasar. Dengan begitu, investor bisa memahami potensi keuntungan maupun kerugian tanpa harus langsung mengambil risiko besar.
Sementara itu, Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Lolita Liliana, menekankan investasi tidak semata bertujuan menjadi kaya, melainkan menjaga kondisi finansial tetap stabil dan menyiapkan dana darurat. Ia menilai kendala terbesar masyarakat sering kali bukan karena tidak memiliki uang, tetapi belum terbiasa menyisihkan penghasilan.
“Masalah utama bukan di uang, tapi kebiasaan,” kata Lolita saat memaparkan edukasi reksa dana dalam Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU) APRDI pada rangkaian Pekan Reksa Dana 2026 di Medan.
Lolita menyoroti pengeluaran kecil seperti nongkrong membeli kopi dan camilan, belanja online, hingga “healing” singkat yang tanpa terasa menghabiskan penghasilan. Untuk mendorong kebiasaan investasi yang rutin dan terencana, APRDI bersama Otoritas Jasa Keuangan meluncurkan PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala) Reksa Dana. Program nasional yang diluncurkan pada 27 April 2026 dalam Pekan Reksa Dana 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, menawarkan kemudahan akses, edukasi, serta nominal investasi mulai Rp10 ribu.
Salah satu fitur utama program ini adalah autodebet yang mendorong kebiasaan menabung reksa dana secara otomatis setiap bulan.
“Melalui fitur autodebet, kebiasaan ini diubah secara perlahan. Dana investasi dipotong otomatis setiap bulan, sehingga tidak lagi bergantung pada niat atau ingatan,” kata Lolita.
Manajer Senior Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, Adynitra Ananta, menambahkan pertumbuhan investor saat ini banyak ditopang generasi muda. Kelompok usia di bawah 30 tahun dinilai menjadi dominasi baru di pasar modal sekaligus penggerak pertumbuhan investasi ke depan, didorong kedekatan dengan teknologi digital, akses informasi yang luas, serta kemudahan membuka akun investasi.
Menurut Adynitra, PINTAR Reksa Dana hadir untuk mendorong kebiasaan investasi yang lebih sehat dan disiplin melalui metode investasi berkala.
“Pendekatan ini cocok bagi investor pemula karena memungkinkan masyarakat mulai berinvestasi secara rutin dengan nominal yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Melalui berbagai kegiatan Pekan Reksa Dana yang digelar di sejumlah kota, termasuk Medan, dengan melibatkan regulator, pelaku industri, dan akademisi, reksa dana diharapkan semakin mudah dipahami dan dekat dengan masyarakat. Perlahan, investasi pun bergeser menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda—dengan gadget yang kini tak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga alat menyiapkan masa depan.