BERITA TERKINI
Fenomena Pemalsuan Status Pernikahan di Aplikasi Kencan, Kejujuran Dipersoalkan

Fenomena Pemalsuan Status Pernikahan di Aplikasi Kencan, Kejujuran Dipersoalkan

BOGOR — Perkembangan teknologi digital mengubah cara sebagian orang mencari pasangan. Jika sebelumnya perkenalan lebih banyak terjadi melalui pertemuan langsung, kini aplikasi pencarian jodoh menawarkan kemudahan, kecepatan, dan peluang berkenalan dengan banyak orang.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang dinilai mengusik: sebagian pengguna memalsukan status pernikahan untuk membuka relasi baru. Ada yang mengaku lajang meski masih memiliki suami atau istri. Ada pula yang mengklaim sebagai janda atau duda karena pasangan telah meninggal dunia, padahal kenyataannya tidak demikian.

Dalam pandangan sebagian orang, tindakan itu dianggap sebagai “cara” untuk memperluas pergaulan. Akan tetapi, dari perspektif agama, kebohongan—sekecil apa pun—dipandang bukan perkara ringan.

Dalam ajaran Islam, kejujuran ditempatkan sebagai fondasi akhlak. Al-Qur’an memerintahkan umat beriman untuk berkata benar: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).

Ayat tersebut menegaskan bahwa berkata benar bukan hanya tuntutan dalam hubungan sosial, melainkan juga perintah agama. Karena itu, kebohongan, termasuk memalsukan status pernikahan, dipandang sebagai pelanggaran etika sekaligus penyimpangan dari perintah tersebut.

Peringatan serupa juga disampaikan dalam hadis Rasulullah SAW: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis itu menjadi pengingat bahwa dampak kebohongan tidak hanya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memiliki konsekuensi spiritual.