Elon Musk kembali melontarkan prediksi mengenai perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). CEO Tesla dan SpaceX itu menilai AI berpotensi melampaui kecerdasan manusia dalam waktu sekitar tiga tahun ke depan, atau paling cepat pada 2029.
Pernyataan tersebut disampaikan Musk saat menanggapi unggahan di media sosial yang menyebut manusia hanya memiliki waktu tiga tahun sebelum AI menjadi lebih pintar dari manusia. Mengutip GizChina, Musk menilai prediksi itu “terdengar benar”.
Ini bukan kali pertama Musk menyampaikan pandangan serupa. Dalam beberapa tahun terakhir, ia kerap menyebut kemunculan AI dengan kemampuan setara hingga melampaui manusia bukan lagi sesuatu yang terlalu jauh.
Pada 2023, Musk pernah mengatakan superintelligence—AI yang jauh melampaui kemampuan manusia—dapat hadir dalam lima sampai enam tahun berikutnya, yakni sekitar 2028–2029. Saat itu, ia juga menyatakan kekhawatiran terhadap risiko yang dapat muncul apabila perkembangan AI berlangsung terlalu cepat. Musk bahkan sempat berpendapat bahwa, jika memungkinkan, pengembangan AI sebaiknya dihentikan sementara untuk mengurangi potensi ancaman di masa depan.
Pada April 2024, Musk kembali memperjelas pandangannya dengan menyebut AGI (artificial general intelligence), yaitu AI dengan kemampuan kognitif setara manusia, kemungkinan muncul sekitar 2026. AGI dipahami sebagai konsep AI yang tidak hanya unggul pada satu tugas tertentu, tetapi juga mampu belajar, memahami, dan menyelesaikan beragam persoalan layaknya manusia.
Setelah AGI tercapai, Musk memperkirakan AI dapat melampaui kecerdasan gabungan seluruh manusia pada rentang 2029 hingga 2030.
Meski menarik perhatian, prediksi tersebut tetap dipandang sebagai opini pribadi, bukan kepastian ilmiah. Hingga kini, belum ada kesepakatan tunggal di kalangan peneliti tentang kapan AI benar-benar dapat melampaui kecerdasan manusia secara umum.
Saat ini, AI memang telah menunjukkan kemampuan menyamai bahkan mengungguli manusia dalam sejumlah tugas spesifik, seperti bermain catur pada level tinggi, menulis kode, menganalisis data dalam jumlah besar, serta menghasilkan teks, gambar, dan suara dengan cepat.
Namun, kecerdasan manusia tidak hanya diukur dari kecepatan atau kemampuan menyelesaikan satu jenis tugas. Manusia juga memiliki kemampuan memahami konteks baru, menimbang nilai, beradaptasi terhadap situasi yang belum pernah dihadapi, serta mengambil keputusan dalam kondisi yang kompleks dan serba tidak pasti. Di titik ini, sebagian peneliti menilai AI masih memiliki jalan panjang, sehingga prediksi AI melampaui manusia dalam tiga tahun dianggap terlalu cepat oleh sebagian kalangan.
Selain itu, Musk juga dikenal memiliki rekam jejak prediksi besar di berbagai bidang teknologi yang tidak selalu terwujud sesuai jadwal. Karena itu, pernyataannya soal AI kembali memicu perhatian sekaligus perdebatan mengenai seberapa dekat lompatan besar AI benar-benar akan terjadi.