BERITA TERKINI
Duta Kesehatan Mental Aceh Dorong Konsep Meja Makan Bebas Gadget untuk Perkuat Literasi Digital Keluarga

Duta Kesehatan Mental Aceh Dorong Konsep Meja Makan Bebas Gadget untuk Perkuat Literasi Digital Keluarga

Meja makan tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan berbagi makanan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang membangun literasi digital di lingkungan keluarga. Pesan itu disampaikan Esti Wulansari, Duta Kesehatan Mental Aceh, dalam wawancara di Banda Aceh, Minggu, 19 April 2026.

Esti menilai paparan konten digital yang tidak terfilter dapat menjadi salah satu pemicu munculnya persoalan kesehatan mental pada remaja. Ia juga menyoroti besarnya dampak isu kesehatan mental secara global. “40% penyebab kematian dunia terkait masalah kesehatan mental, dan ini peringkat pertama,” ujar Esti.

Untuk merespons tantangan tersebut, Esti mendorong penerapan konsep “Meja Makan Bebas Gadget, Penuh Dialog”. Menurutnya, gagasan ini bukan bertujuan melarang penggunaan teknologi, melainkan melatih anak dan orang tua untuk memilah informasi secara bersama-sama melalui percakapan rutin di rumah.

Ia mengibaratkan masalah seperti listrik. Jika dialihkan atau dipendam, kata Esti, hal itu dapat berbahaya. Namun bila “dialirkan” lewat obrolan keluarga, masalah dapat berubah menjadi energi positif.

Esti menjelaskan tiga aturan praktis yang dapat diterapkan saat makan bersama. Pertama, “cek fakta bareng” dengan membahas informasi yang sedang viral. “Benar nggak ya? Siapa sumbernya?” kata Esti, mencontohkan pertanyaan yang bisa diajukan bersama.

Kedua, “curhat digital”, yakni memberi ruang bagi anak untuk menceritakan pengalaman di media sosial, termasuk ketika menerima komentar negatif. Dalam situasi ini, Esti menekankan pentingnya orang tua mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Ketiga, menetapkan waktu tanpa layar selama 20 menit agar keluarga dapat fokus pada cerita dan aktivitas hari itu, bukan pada notifikasi gawai.

“Kesehatan mental itu krusial. Kita nggak bisa kontrol algoritma, tapi kita bisa kontrol dialog di rumah,” tegas Esti. Ia menambahkan, remaja kerap menyembunyikan kesedihan dengan “topeng kegembiraan” di media sosial, sehingga meja makan dapat menjadi tempat untuk melepas “topeng” tersebut melalui komunikasi yang aman dan terbuka.

Esti juga merujuk data Kementerian Kesehatan tahun 2022 yang mencatat 1 dari 20 remaja Indonesia terdiagnosis gangguan mental. Menurutnya, literasi digital dalam keluarga dapat menjadi salah satu bentuk pencegahan dini.

Ia mengingatkan literasi digital bukan hanya urusan anak. Orang tua, kata Esti, juga perlu belajar agar tidak ikut menyebarkan informasi keliru, termasuk hoaks di grup percakapan keluarga.