BERITA TERKINI
Dosen UBSI: Congklak Ajarkan Prinsip UX untuk Membuat Aplikasi Lebih Intuitif

Dosen UBSI: Congklak Ajarkan Prinsip UX untuk Membuat Aplikasi Lebih Intuitif

Di tengah perkembangan teknologi digital yang kian kompleks, upaya membangun aplikasi yang sukses kerap terfokus pada kecanggihan teknis. Namun, Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Tasikmalaya, Bambang Kelana Simpony, menilai kegagalan banyak aplikasi modern justru sering terjadi karena logika penggunaan yang terlalu rumit dan tidak intuitif.

Menurut Bambang, prinsip dasar pengalaman pengguna (User eXperience/UX) dapat dipelajari dari hal sederhana, termasuk permainan tradisional congklak. Ia menilai congklak menawarkan pelajaran tentang cara manusia memahami aturan, mengambil keputusan, dan menikmati proses.

“Banyak aplikasi modern gagal bukan karena teknologinya kurang canggih, melainkan logikanya terlalu rumit dan tidak intuitif. Congklak contoh permainan dengan aturan sederhana, tetapi mampu membuat pemain betah berlama-lama,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Kamis (12/3/2026).

Bambang menjelaskan, terdapat sejumlah prinsip dalam congklak yang relevan untuk pengembangan aplikasi digital masa kini, terutama dalam desain alur dan pengalaman pengguna.

Logika alur yang sederhana dan mudah diprediksi

Dalam congklak, pemain dapat memahami dengan cepat apa yang akan terjadi ketika mengambil biji dari satu lubang dan menyebarkannya ke lubang berikutnya. Alurnya jelas dan dapat diperkirakan. Prinsip ini, kata Bambang, semestinya diterapkan dalam aplikasi agar pengguna memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

“Pengguna aplikasi perlu memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Ketika menekan tombol tertentu, hasil yang muncul harus sesuai ekspektasi. Alur yang membingungkan membuat pengguna kehilangan minat,” jelasnya.

Manajemen sumber daya yang transparan

Ia juga menyoroti pentingnya visibilitas dalam congklak. Jumlah biji di setiap lubang dan di “rumah” pemain terlihat jelas, sehingga pemain selalu mengetahui kondisi permainan. Transparansi ini, menurutnya, menciptakan rasa kontrol.

Konsep serupa berlaku dalam aplikasi digital, misalnya pada informasi jumlah poin, status proses, atau isi keranjang belanja. Jika informasi semacam itu tidak ditampilkan dengan jelas, pengguna berpotensi merasa cemas dan ragu melanjutkan interaksi.

Umpan balik instan

Bambang menambahkan, setiap langkah dalam congklak memberikan umpan balik langsung, baik secara visual maupun suara. Perpindahan dan bertambahnya biji memberi kepuasan tersendiri bagi pemain.

“Setiap langkah dalam permainan congklak memberikan umpan balik instan, baik secara visual maupun suara. Biji yang berpindah dan bertambah memberi kepuasan tersendiri bagi pemain,” kata Bambang.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan kebutuhan pengguna aplikasi akan respons yang cepat dan jelas. Perubahan warna tombol, notifikasi sukses, atau tanda centang sederhana dapat memberi rasa kendali dan kepuasan yang berarti.

Pendekatan tersebut juga disebut mulai diterapkan dalam proses pembelajaran di UBSI Kampus Tasikmalaya. Mahasiswa tidak hanya diajarkan menulis kode yang berfungsi, tetapi juga diajak memahami bagaimana pengguna berinteraksi dan merasakan aplikasi yang dibuat.

Melalui analogi congklak, Bambang menilai konsep UX dan desain alur menjadi lebih mudah dipahami. Cara ini mendorong calon pengembang untuk berpikir sebagai perancang pengalaman, bukan sekadar pembuat sistem.

“Pada akhirnya, aplikasi yang hebat bukan hanya yang canggih secara teknis, juga yang sederhana, intuitif, dan menyenangkan digunakan seperti halnya permainan congklak yang telah bertahan lintas generasi,” tutupnya.