BERITA TERKINI
Dosen ITB Dr. I Dewa Gede Arsa Putrawan Raih Gold Winner Anugerah Diktisaintek 2025 Berkat Inovasi Hilirisasi Riset Kimia Berkelanjutan

Dosen ITB Dr. I Dewa Gede Arsa Putrawan Raih Gold Winner Anugerah Diktisaintek 2025 Berkat Inovasi Hilirisasi Riset Kimia Berkelanjutan

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. I Dewa Gede Arsa Putrawan, meraih Gold Winner pada Anugerah Diktisaintek 2025 melalui inovasi hilirisasi riset kimia berkelanjutan. Penghargaan tersebut diberikan dalam Anugerah Riset dan Pengembangan (Risbang) Kategori Hilirisasi Award Subkategori Paten Granted, yang ditujukan bagi insan Diktisaintek dengan riset berorientasi hilirisasi dan capaian paten berstatus granted.

Anugerah Diktisaintek merupakan apresiasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi kepada perguruan tinggi, insan akademik, serta pemangku kepentingan atas kontribusi dalam penguatan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional. Ajang ini diselenggarakan secara berkelanjutan sejak 2021. Pada 2025, Anugerah Diktisaintek mencakup 15 jenis penghargaan lintas bidang strategis, termasuk riset dan pengembangan.

Dr. Arsa menyatakan penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi pemangku kepentingan untuk terus mendorong kemajuan pendidikan tinggi Indonesia. “Penghargaan ini menjadi dorongan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus melangkah lebih jauh dalam mewujudkan pendidikan tinggi Indonesia yang maju dan berdaya saing global,” ujarnya.

Penghargaan Gold Winner diraih melalui pengembangan teknologi pada proses produksi stabiliser termal polivinil klorida (PVC) yang menitikberatkan pada pemanfaatan air limbah mengandung amonium klorida. Limbah ini berpotensi menimbulkan dampak lingkungan apabila tidak dikelola dengan tepat, namun juga memiliki nilai tambah karena dapat dimanfaatkan sebagai pupuk nitrogen.

Riset tersebut menawarkan solusi atas tingginya kebutuhan energi pada metode rekoveri konvensional, dengan menghadirkan proses yang lebih hemat energi eksternal dan efisien secara operasional. Menurut Dr. Arsa, persoalan utama yang dihadapi adalah metode rekoveri yang umum digunakan saat ini masih padat energi. Inovasi ini juga disebut sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Riset yang mengantarkan penghargaan ini merupakan bagian dari penelitian jangka panjang pengembangan stabiliser termal PVC berbasis reverse ester tin dari sawit (RE Tin Stab Sawit). Penelitian tersebut dilaksanakan bersama tim peneliti ITB yang terdiri dari Dr. Antonius Indarto, Dr. Dendy Adityawarman, dan Dr. Dicka Ar Rahim. Selain mengembangkan produk utama, tim juga mengkaji potensi pemanfaatan air limbah proses produksi sebagai sumber bahan bernilai tambah.

Proses pengembangan invensi hingga perlindungan kekayaan intelektual didukung oleh Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB yang kini bertransformasi menjadi Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST). Paten atas inovasi ini didaftarkan pada Agustus 2021 dan memperoleh status granted pada Mei 2025. Invensi tersebut juga menerima Bantuan Insentif Kekayaan Intelektual Tahun 2025 dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebelum dianugerahi Gold Winner pada Anugerah Diktisaintek 2025.

Dalam proses hilirisasi, Dr. Arsa menyebut tantangan terbesar terletak pada perubahan cara pandang terhadap investasi teknologi. Teknologi hemat energi, menurutnya, membutuhkan tambahan investasi awal yang kerap dipersepsikan sebagai beban, meski dinilai sebagai investasi strategis jangka panjang bagi keberlanjutan industri. Tantangan lainnya adalah pembuktian keandalan dan konsistensi proses ketika teknologi ditingkatkan dari skala laboratorium ke skala pilot.

“Pada tahap ini, kolaborasi erat dengan industri menjadi kunci, baik dalam penyediaan fasilitas uji skala pilot maupun dalam adaptasi teknologi agar siap diterapkan di lingkungan industri,” ujar Dr. Arsa.

Melalui inovasi tersebut, diharapkan masyarakat dapat memperoleh manfaat dari tersedianya teknologi hemat energi yang mampu mengekstraksi bahan bernilai dari air limbah industri. Teknologi ini disebut dapat meningkatkan nilai tambah melalui konsep waste-to-value sekaligus mengurangi dampak lingkungan, sehingga mendukung industri yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.

Ke depan, riset ini akan difokuskan pada penguatan kolaborasi dengan industri untuk pengujian dan implementasi pada skala yang lebih besar. Dr. Arsa juga mendorong sivitas akademika ITB untuk terus memperkuat hilirisasi riset melalui kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan. “Sinergi antara akademisi, industri, dan pemangku kepentingan lainnya perlu terus dibangun agar riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya.