BERITA TERKINI
Dokter Ingatkan Dampak Paparan Gadget pada Anak: Bisa Menyerupai Gejala Autisme dan Picu Keterlambatan Bicara

Dokter Ingatkan Dampak Paparan Gadget pada Anak: Bisa Menyerupai Gejala Autisme dan Picu Keterlambatan Bicara

Jakarta — Di tengah era digital, penggunaan gadget kerap menjadi solusi cepat bagi orang tua saat anak rewel. Namun, dokter mengingatkan bahwa masa tumbuh kembang anak membutuhkan interaksi langsung dengan orang tua dan lingkungan sekitar.

Dokter Spesialis Anak Dewi Kartika (Deka) mengatakan interaksi anak dengan gadget perlu diminimalisasi sejak dini. Menurutnya, paparan tayangan lewat gadget yang berlebihan pada usia dini dapat membuat anak menunjukkan perilaku yang menyerupai autisme.

“Autis, ADHD itu kan sebenarnya bawaan lahir ya. Tapi ketika dia terlalu banyak nonton (lewat gadget) di bawah 2–4 tahun, itu kita mungkin akan mengira dia seperti anak autis. Autistic like,” ujar Deka dalam diskusi bertajuk Empowering Women, Nurturing the Future di Mika School BSD, Sabtu, 25 April 2026.

Deka menyarankan orang tua tidak memberikan akses gadget kepada anak sebelum usia 2 tahun. Ia menjelaskan, periode sebelum 2 tahun merupakan masa ketika anak aktif menyerap bahasa dari lingkungan sekitarnya.

Ia juga menyoroti meningkatnya angka gangguan bicara atau speech delay pada anak. Meski anak yang terbiasa berinteraksi dengan gadget masih dapat berkomunikasi, ia menilai proses interaksi bisa terhambat.

“Jadi interaksinya itu yang harus dikuatkan di dua tahun pertama. Kalau enggak, dia biasanya speech delay,” jelasnya.

Selain aspek bahasa, Deka menilai kebiasaan menonton tayangan melalui gadget dapat membuat anak kurang tertarik pada dunia luar. Kondisi ini berpotensi berdampak pada aktivitas motorik anak karena jarang bergerak.

“Kalau dia sudah terlalu banyak melihat yang seru-seru, berwarna-warni di TV. Ketika dia keluar, dia lihat truk aja udah gak seru gitu,” terangnya.

Sementara itu, Co-Founder Mika Daycare and Preschool Marta Yuliana mengatakan pihaknya memahami tantangan pengasuhan yang dihadapi orang tua, terutama perempuan pekerja yang kesulitan menyeimbangkan peran profesional dan keluarga.

Ia menyebut Mika berfokus pada pengembangan anak secara holistik melalui pendekatan play-based learning yang terstruktur. Selain itu, pihaknya mengedepankan komunikasi yang transparan kepada orang tua melalui laporan perkembangan anak serta dokumentasi aktivitas harian yang dapat diakses melalui aplikasi.

“Mika hadir sebagai support system yang memungkinkan orang tua bekerja dengan lebih tenang karena anak-anak mereka berada dalam lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembangnya,” kata Marta.