Pemandangan balita yang tenang saat memegang ponsel kini kian lumrah ditemui, baik di restoran, ruang tunggu, maupun di rumah. Layar gawai kerap menjadi “penenang instan” ketika anak rewel.
Namun, dokter mengingatkan bahwa kemudahan tersebut menyimpan risiko yang tidak bisa dianggap sepele. Anak berusia di bawah dua tahun disebut belum siap menerima paparan layar secara rutin karena masa ini merupakan periode emas perkembangan otak.
Melalui unggahan Instagram @metahanindita, Dokter Spesialis Anak dr. Meta Hanindita menegaskan anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak diberikan gadget sama sekali. Menurutnya, pada usia tersebut otak anak berkembang sangat pesat dan membutuhkan stimulasi nyata dari lingkungan sekitar, seperti kontak mata, sentuhan, permainan, serta percakapan dengan orang tua.
“Interaksi langsung jauh lebih penting dibandingkan menatap layar,” ujarnya.
Salah satu dampak yang paling sering muncul akibat paparan gadget terlalu dini adalah keterlambatan bicara. Anak yang terlalu lama menatap layar cenderung menjadi penerima informasi pasif. Mereka mendengar suara, tetapi tidak benar-benar berlatih merespons atau berkomunikasi dua arah. Padahal, kemampuan bahasa berkembang optimal saat anak aktif berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Selain memengaruhi kemampuan bicara, penggunaan gadget juga disebut dapat berdampak pada konsentrasi dan perilaku anak. Paparan visual dan audio yang terlalu cepat dapat membuat anak terbiasa dengan stimulasi instan. Akibatnya, anak lebih mudah bosan, sulit fokus, dan cenderung tantrum ketika gadget diambil.
Risiko lain yang disorot adalah gangguan tidur. Cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang berperan dalam pengaturan tidur.
Para ahli menekankan bahwa anak di bawah dua tahun membutuhkan pengalaman nyata untuk belajar. Aktivitas seperti bermain balok, mendengar cerita, bernyanyi, hingga sekadar diajak berbicara dinilai lebih bermanfaat dibandingkan menonton video. Kegiatan sederhana ini membantu perkembangan bahasa, motorik, emosi, dan kemampuan sosial anak secara lebih seimbang.
Sejumlah warganet turut membagikan pengalaman terkait pembatasan gadget. Ada yang menilai penggunaan gawai berlebihan berdampak pada keterlambatan bicara, lalu membaik setelah dibatasi. “Benar sekali. Anak saya dulu sering nonton YouTube, akhirnya telat bicara. Setelah gadget dibatasi, perkembangan bahasanya jauh lebih baik,” tulis seorang warganet.
Warganet lain mengaku memilih membacakan buku dan mengajak anak bermain meski lebih merepotkan. “Aku memilih bacakan buku dan ajak main. Memang lebih repot, tapi hasilnya terasa,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian pengguna media sosial juga mengakui bahwa membatasi gadget bukan perkara mudah di era digital, terutama bagi orang tua yang sibuk. “Teorinya gampang, praktiknya susah. Apalagi kalau orang tua juga sibuk bekerja,” tulis salah satu netizen.
Dokter mengingatkan, bila ingin tumbuh kembang anak optimal, yang dibutuhkan adalah kehadiran, perhatian, dan interaksi langsung, bukan sekadar tontonan di layar.