BERITA TERKINI
Dokter IDAI: Gadget Bukan Penyebab ADHD dan Autisme pada Anak, tetapi Bisa Memperberat Gejala

Dokter IDAI: Gadget Bukan Penyebab ADHD dan Autisme pada Anak, tetapi Bisa Memperberat Gejala

Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), R R Amanda Soebadi, menegaskan kebiasaan bermain gadget bukan penyebab anak mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) maupun autisme. Menurutnya, kedua kondisi tersebut dipengaruhi faktor neurologis, genetik, hingga lingkungan.

“Jadi gadget itu bukan penyebab ADHD,” kata Amanda, Rabu (29/4/2026).

Amanda menjelaskan ADHD terjadi karena adanya ketidakseimbangan neurotransmitter di otak. Kondisi ini memengaruhi kemampuan anak untuk fokus dan dapat memunculkan perilaku impulsif.

Ia menerangkan bahwa saat anak bermain gim melalui ponsel, otak menerima stimulus yang cepat dan berubah-ubah. Aktivitas tersebut juga cenderung membutuhkan usaha yang ringan dan repetitif dari anak. “Ketika kita bermain game dengan HP, otaknya itu mendapatkan stimulus dari gadget itu dan akan terstimulasi dengan cepat. Berubah dengan cepat, tapi hanya membutuhkan usaha yang ringan dan yang repetitif dari si anak. Jadi secara natural karena imbalance neurotransmitter itu,” ujarnya.

Menurut Amanda, anak dengan ADHD cenderung lebih tertarik pada aktivitas di gadget karena memberikan sensasi penghargaan instan. Akibatnya, anak lebih mudah mendapatkan dorongan dopamine dan menjadi enggan melakukan aktivitas lain yang memerlukan usaha lebih besar.

Meski bukan penyebab, Amanda menekankan paparan gadget dapat menjadi faktor yang memodifikasi atau memperjelas gejala yang tampak. Ia mengatakan anak yang tidak autis dapat menunjukkan gejala mirip autisme jika mendapat paparan gadget berlebihan dan kekurangan kesempatan berinteraksi sosial serta stimulasi lain.

“Tapi paparan gadget itu adalah modifier dari gejala yang tampak. Anak yang tidak autis kalau mendapatkan paparan gadget berlebihan dan kekurangan kesempatan berinteraksi sosial, mendapat stimulasi dan lain lain itu dia bisa menampakkan gejala seperti anak autis,” ucapnya.

Amanda menambahkan, pada anak yang sebenarnya tidak mengalami autisme, kondisi tersebut umumnya dapat pulih lebih cepat ketika interaksi sosial diperbaiki. Sementara pada anak dengan autisme, penanganan khusus seperti terapi tetap diperlukan agar perkembangan sosial dan komunikasi lebih optimal.

Ia juga mengingatkan, pada anak dengan autisme, paparan gadget yang dominan berisiko mengurangi interaksi antarmanusia sehingga anak semakin cenderung mengisolasi diri. “Kalau seorang anak yang memang autis kemudian paparannya hanya dengan gadget saja, nanti paparan interaksi antar manusianya makin sedikit. Tentunya dia akan makin mengisolasi dirinya sendiri,” katanya.