Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak RSCM Kencana, dr. R R Amanda Soebadi, Sp.A(K), M.Med ClinNeurophysiol, menyatakan kebiasaan bermain gawai bukanlah penyebab anak mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) maupun autisme.
“Jadi gadget itu bukan penyebab ADHD,” kata Amanda dalam wawancara eksklusif bersama ANTARA di Jakarta, Rabu (29/4). Amanda juga menjabat sebagai Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Menurut dia, ADHD dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan neurotransmitter, yakni zat kimia di otak yang diperlukan untuk fungsi normal. ADHD berkaitan dengan gangguan saraf yang umumnya membuat penderitanya sulit fokus dan cenderung impulsif. Amanda menyebut penyebab pasti ADHD belum diketahui, selain faktor genetik.
Dalam kaitannya dengan penggunaan gawai, Amanda menjelaskan anak dengan ADHD cenderung memiliki ketertarikan lebih terhadap aktivitas yang ditawarkan perangkat pintar. Hal ini dipengaruhi sensasi seperti mendapatkan hadiah secara instan dengan usaha yang relatif ringan, sehingga terasa menyenangkan.
“Ketika kita bermain game dengan HP, otaknya itu mendapatkan stimulus dari gadget itu dan akan terstimulasi dengan cepat. Berubah dengan cepat, tapi hanya membutuhkan usaha yang ringan dan yang repetitif dari si anak. Jadi secara natural karena imbalance neurotransmitter itu,” ujarnya.
Amanda menambahkan, kebiasaan tersebut dapat menjadi cara instan bagi otak anak untuk mengeluarkan dopamin, sehingga anak menjadi malas melakukan aktivitas lain.
Sementara itu, autisme disebutnya disebabkan oleh berbagai faktor, baik genetik maupun paparan lingkungan. Namun, paparan gawai dinilai lebih berperan sebagai pengubah (modifier) gejala yang tampak.
“Tapi paparan gadget itu adalah modifier dari gejala yang tampak. Anak yang tidak autis kalau mendapatkan paparan gadget berlebihan dan kekurangan kesempatan berinteraksi sosial, mendapat stimulasi dan lain lain itu dia bisa menampakkan gejala seperti anak autis,” kata Amanda.
Pada anak yang tidak autis tetapi terpapar gawai secara berlebihan, ia menyebut perbaikan kondisi relatif lebih cepat dan kemampuan interaksi sosial dapat membaik. Berbeda dengan anak dengan autisme yang memerlukan penanganan lebih spesifik, seperti terapi dan langkah lain sesuai kebutuhan.
Ia juga mengingatkan, pada anak yang memang memiliki autisme, paparan gawai yang dominan dapat mengurangi kesempatan berinteraksi dengan manusia. Kondisi ini berpotensi membuat anak semakin mengisolasi diri.
“Kalau seorang anak yang memang autis kemudian paparannya hanya dengan gadget saja, nanti paparan interaksi antar manusianya makin sedikit. Tentunya dia akan makin mengisolasi dirinya sendiri,” ujarnya.