Jakarta — Riset menjadi fondasi penting dalam menghasilkan studi yang berkualitas karena dilakukan melalui proses sistematis untuk menjawab pertanyaan secara terukur. Proses ini umumnya berangkat dari rasa ingin tahu, keraguan terhadap suatu fenomena, atau kebutuhan untuk memastikan sesuatu secara objektif.
Dalam riset, pertanyaan awal kemudian dirumuskan secara lebih terstruktur sebelum peneliti menentukan metode yang tepat untuk menjawabnya. Secara umum, terdapat dua pendekatan utama. Metode kuantitatif digunakan untuk mengukur dan menguji sesuatu melalui data angka dan statistik. Sementara itu, metode kualitatif membantu menggali persepsi, pengalaman, serta dinamika yang tidak selalu dapat diterjemahkan dalam angka. Dalam praktiknya, kedua metode ini kerap dikombinasikan untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Lead Research sekaligus Co-founder ID COMM, Asti Putri, memaparkan hal tersebut dalam diskusi bertajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap?”. Paparan itu ia sampaikan saat menjadi dosen tamu dalam sesi kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong beberapa waktu lalu.
“Riset dimulai karena ada sesuatu yang belum pasti. Ada hal yang perlu dicek dengan data, bukan hanya asumsi,” kata Asti.
Ia menjelaskan, dalam mempersiapkan riset mengenai kesiapan Indonesia menuju era mobil listrik, pertanyaan yang diajukan tidak berhenti pada tren penjualan. Tim juga menyoroti empat aspek utama.
Pertama, kesiapan industri. Pertanyaan yang diajukan antara lain apakah produsen yang masuk ke Indonesia membangun pabrik atau hanya menjual produk, serta bagaimana kesiapan rantai pasok termasuk produksi suku cadang kecil.
Kedua, kebijakan pemerintah. Tim menelaah apakah regulasi sinkron dari hulu ke hilir, apakah tersedia insentif, serta sejauh mana kebijakan mendukung investasi dan perkembangan industri.
Ketiga, aspek konsumen. Asti menilai perubahan perilaku konsumen berlangsung cepat, termasuk pergeseran fitur kendaraan yang kini banyak terpusat pada layar dan penggunaan sistem digital. Menurutnya, tidak semua orang siap dengan perubahan tersebut—ada yang membeli tetapi belum tentu siap menggunakan, atau sebaliknya.
Keempat, infrastruktur. Kajian menyasar ketersediaan dan kemudahan pengisian daya, mulai dari home charging hingga SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di mal atau kantor, termasuk kemudahan penggunaan dan kepraktisan sistem pembayaran.
Untuk menjawab rangkaian pertanyaan itu, Asti menyebut tim peneliti melakukan sejumlah metode, yakni literature review untuk menelaah regulasi dan kebijakan, wawancara mendalam dengan pelaku industri, konsumen, media, dan komunitas, serta Focus Group Discussion (FGD) guna melihat dinamika persepsi antar-pemangku kepentingan. Selain itu, dilakukan observasi lapangan untuk mengamati perilaku pengguna di SPKLU dan social listening untuk memantau percakapan publik di media sosial.
Asti menekankan pentingnya memahami proses riset agar riset tidak dipandang sekadar sebagai kumpulan angka atau laporan tebal. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya mengumpulkan data, melainkan bagaimana membuat data tersebut “berbunyi” dan menghasilkan insight yang relevan.
“Tantangannya bukan hanya mengumpulkan data, tetapi bagaimana membuat data itu berbunyi dan menghasilkan insight yang relevan. Yang pasti, metode kuantitatif maupun kualitatif itu sama kuatnya, sama-sama powerful,” tutupnya.
Ia juga menegaskan, bagi peneliti, kejernihan dalam membaca informasi menjadi hal penting. Informasi apa pun, jika dianalisis dengan baik, dapat menjadi data yang bermakna, sehingga keputusan yang diambil bertumpu pada pemahaman berbasis bukti.