BytePlus, platform layanan enterprise dari ByteDance, memperkenalkan rangkaian solusi kecerdasan buatan (AI) untuk pasar Indonesia dalam ajang BytePlus Indonesia AI Day 2026 yang digelar di Jakarta. Inovasi yang dibawa difokuskan untuk mendorong transformasi digital perusahaan lintas sektor, mulai dari e-commerce, perusahaan digital native, media, hingga ranah publik.
Salah satu sorotan utama adalah BytePlus ModelArk, platform terpadu untuk large language models (LLM). Melalui ModelArk, pengembang dapat mengintegrasikan berbagai model AI untuk beragam kebutuhan aplikasi, seperti perancangan chatbot dan penyajian konten yang dipersonalisasi.
Selain ModelArk, BytePlus juga memperkenalkan lini model Seed yang ditujukan untuk perusahaan maupun layanan masyarakat dalam membangun pengalaman digital di atas infrastruktur yang sudah disiapkan. Tiga model yang diperkenalkan meliputi Dola Seed 2.0 untuk kemampuan penalaran dasar, Dreamina Seedance 2.0 untuk pembuatan video dinamis, serta Dola Seedream 5.0 yang dapat mengubah perintah bahasa alami menjadi gambar visual.
BytePlus menyebut kehadiran ModelArk dan model Seed diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan implementasi AI di Indonesia. Meski adopsi AI disebut telah mencapai 96 persen, dampak bisnis nyata disebut baru dirasakan oleh 12 persen.
Regional Lead BytePlus untuk Indonesia dan Malaysia, Leon Chen, mengatakan model AI tersebut dirancang sebagai katalis inovasi agar perusahaan lokal dapat mempercepat transformasi bisnis sejalan dengan target pemerintah meningkatkan produktivitas nasional dan menciptakan nilai ekonomi baru. Ia menyatakan solusi yang diperkenalkan ditujukan untuk membantu perusahaan meningkatkan pengalaman pelanggan, mempercepat inovasi, dan memperkuat daya saing di tengah dinamika pasar.
BytePlus juga menyampaikan bahwa solusi AI mereka sudah mulai diimplementasikan oleh Transjakarta dan Volantis Technology.
Di Transjakarta, layanan chatbot AI BytePlus diintegrasikan langsung ke dalam aplikasi TJ: Transjakarta. Dengan integrasi tersebut, penumpang dapat mencari jadwal atau rute bus menggunakan perintah bahasa sehari-hari. Kinerja chatbot ini diklaim memangkas waktu penanganan pertanyaan pengguna hingga 93,82 persen di berbagai platform media sosial Transjakarta, termasuk pada jam sibuk.
Direktur Sistem Teknologi Informasi dan Pelayanan Transjakarta, Raditya Maulana Rusdi, menyatakan integrasi ini ditujukan agar komuter memperoleh informasi yang akurat dan real-time tanpa jeda. Otomatisasi tersebut juga disebut memungkinkan tim operasional lebih fokus pada pekerjaan yang bersifat strategis.
Sementara itu, Volantis Technology memanfaatkan model AI Seed 1.8 Pro melalui platform ModelArk untuk pengolahan big data. Perusahaan tersebut menyebut berhasil merangkum data yang sebelumnya terfragmentasi menjadi solusi AI siap pakai.
Volantis mengklaim otomatisasi itu menekan biaya operasional hingga berada di bawah harga langganan model premium kompetitor. Efisiensi tersebut disebut mendorong Volantis memperluas jangkauan dari segmen korporat ke konsumen langsung melalui peluncuran asisten kerja AI bernama Sophia.
Co-Founder dan CTO Volantis Technology, Habib Rosyad, menyatakan BytePlus menunjukkan efisiensi biaya hingga 40–50 persen dengan akurasi respons di atas 95 persen untuk skenario kompleks, serta proses onboarding yang lebih cepat.
Menutup pernyataannya, Leon Chen kembali menegaskan harapannya agar semakin banyak perusahaan mulai memanfaatkan AI secara efektif untuk mendorong transformasi digital yang nyata dan berdampak di Indonesia.