BERITA TERKINI
Bunda Literasi Kota Cirebon Dorong Cara Menyenangkan untuk Alihkan Anak dari Gadget

Bunda Literasi Kota Cirebon Dorong Cara Menyenangkan untuk Alihkan Anak dari Gadget

Bunda Literasi Kota Cirebon, Noviyanti Edo, menekankan pentingnya membangun budaya literasi yang menyenangkan dan tidak memaksa di tengah kuatnya pengaruh digitalisasi terhadap anak-anak. Menurutnya, pendekatan literasi perlu disesuaikan dengan minat anak agar membaca dapat menjadi kebiasaan sejak dini.

Pernyataan tersebut disampaikan Noviyanti dalam program Cirebon Menyapa Masyarakat Episode 16 yang menjadi rangkaian Caruban Literasi Festival 2026, Rabu, 22 April 2026, di Grage City Mall, Kota Cirebon.

Noviyanti mengatakan perannya sebagai Bunda Literasi merupakan tanggung jawab besar yang harus dijalankan secara serius untuk mendorong tumbuhnya literasi di masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa setelah diamanatkan menjalankan peran tersebut, ia merasa perlu mengambil bagian dalam upaya menumbuhkan literasi di Kota Cirebon.

Ia menilai tantangan terbesar dalam pengembangan literasi saat ini berasal dari maraknya penggunaan gadget pada anak-anak sejak usia dini. Kondisi itu, kata dia, membuat peningkatan minat baca menjadi tidak mudah karena perhatian anak sudah lebih dulu teralihkan pada perangkat digital.

Karena itu, Noviyanti menegaskan literasi perlu diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan agar anak tidak merasa terpaksa. Ia mengingatkan bahwa paksaan justru dapat membuat anak enggan dan kehilangan minat untuk berinteraksi dengan buku.

Salah satu cara yang dinilai efektif, menurut Noviyanti, adalah menyesuaikan bahan bacaan dengan minat anak. Ia mencontohkan cerita tentang hewan yang dikemas dalam bentuk dongeng menarik, sehingga anak lebih tertarik untuk berinteraksi dengan buku dibandingkan langsung diarahkan membaca secara formal.

Selain metode pendekatan, ia juga menekankan pentingnya ketersediaan buku yang mudah diakses anak di lingkungan keluarga. Menurutnya, buku perlu sering dihadirkan dan dikenalkan agar anak terbiasa melihat serta membacanya.

Noviyanti menyampaikan bahwa buku bukan sekadar pajangan, melainkan perlu “digelar” dan sering diberikan kepada anak-anak agar interaksi anak dengan buku dapat terbangun secara alami dan berkelanjutan.

Ia juga membagikan pengalaman pribadinya saat mengenalkan literasi kepada cucunya yang sebelumnya akrab dengan gadget. Setelah dikenalkan secara bertahap, cucunya disebut menjadi senang dan mulai meminta dibacakan buku.

Melalui upaya tersebut, Noviyanti berharap masyarakat, khususnya orang tua di Kota Cirebon, lebih peka terhadap minat anak dan mampu mengarahkan mereka pada kegiatan literasi sejak dini. Ia menilai langkah ini penting untuk membentuk generasi dengan kebiasaan membaca dan kemampuan literasi yang baik di masa depan.