Pemerintah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mendorong permainan dan olahraga tradisional sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan anak-anak pada gawai serta aktivitas di media sosial. Upaya ini ditujukan untuk memperkuat pembentukan karakter generasi muda di tengah derasnya arus teknologi digital dan paparan konten daring berisiko.
Program tersebut terlihat dalam Pekan Budaya Daerah Bulungan 2026 yang digelar di Kebun Raya Bundayati. Dalam kegiatan itu, pemerintah daerah mengadakan rangkaian perlombaan tradisional yang melibatkan pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dari 10 kecamatan.
Bupati Bulungan Syarwani menilai kegiatan semacam ini penting untuk merespons ancaman nyata perkembangan teknologi modern terhadap pola pikir dan perkembangan karakter anak. Ia juga menyebutkan bahwa langkah daerah ini sejalan dengan kebijakan nasional terkait perlindungan anak di ruang siber.
Menurut Syarwani, terdapat dua payung kebijakan yang menjadi rujukan. Pertama, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS) yang mengatur tata kelola dan perlindungan anak di ruang digital. Kedua, Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun pada platform berisiko tinggi.
Syarwani mengatakan telah menginstruksikan kepala sekolah dan guru untuk menjaga anak-anak agar tidak mudah terpapar konten media sosial yang dapat berdampak negatif pada pendidikan karakter. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 19 April 2026.
Pemkab Bulungan memandang permainan tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkuat kohesi sosial dan menjaga warisan budaya. Program berkelanjutan ini diarahkan untuk mendorong integrasi sosial melalui aktivitas fisik dan pertukaran budaya antarpelajar dari berbagai wilayah di Bulungan.
Selain itu, kegiatan ini juga menempatkan pelestarian tradisi sebagai prioritas agar olahraga dan permainan warisan leluhur tetap relevan bagi generasi sekarang. Pada saat yang sama, permainan tradisional diposisikan sebagai alternatif yang lebih sehat dibanding aktivitas digital, sekaligus menjadi cara menanamkan nilai-nilai lokal.
Bupati Bulungan juga menekankan perlunya pendampingan yang serius dari pendidik dan orang tua agar pergeseran aktivitas anak ke kegiatan tradisional dapat berjalan konsisten dan efektif dalam melindungi masa depan mereka.
Dengan mengemas permainan tradisional dalam bentuk kompetisi yang melibatkan perwakilan kecamatan, pemerintah daerah berupaya menumbuhkan kebanggaan komunitas serta meningkatkan daya tarik kegiatan yang kerap dianggap sebagai peninggalan masa lalu. Melalui pendekatan ini, Bulungan mendorong anak-anak tetap tumbuh di era digital, namun dengan fondasi karakter yang berakar pada identitas lokal.