BERITA TERKINI
BRIN Perkuat Riset Bersama FAO untuk Kejar Swasembada Susu 2029

BRIN Perkuat Riset Bersama FAO untuk Kejar Swasembada Susu 2029

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana memperkuat riset dan inovasi guna meningkatkan produksi susu sapi nasional hingga 2029. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), untuk menopang kebutuhan dalam negeri sekaligus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan penguatan riset tersebut menjadi langkah strategis seiring program pemerintah meningkatkan ketahanan pangan. Ia menilai peningkatan produksi susu dalam negeri penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

“Ini adalah sebuah hal yang sangat penting dan strategis seiring dengan program pemerintah meningkatkan food security, juga untuk bisa menyelesaikan program MBG, Makan Bergizi Gratis,” kata Arif di Kantor BRIN, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Arif menyebut Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan susu. Saat ini, kontribusi produksi susu dalam negeri disebut baru sekitar 21%. BRIN menargetkan peningkatan hingga 96% pada 2029, sebagai bagian dari upaya menuju swasembada susu.

“Selama ini kita sudah tahu bahwa kita masih tergantung (impor) untuk produksi susu sehingga kita akan berusaha untuk meningkatkan swasembada susu. Saat ini kita masih kontribusi, produksi kita baru 21% dan sekarang kita berharap agar bisa sampai 96% produksi susu kita sampai 2029,” ujarnya.

Menurut Arif, pencapaian target tersebut membutuhkan riset dan inovasi yang berkelanjutan serta dukungan lintas kementerian. Ia menyebut keterlibatan Menteri Bappenas, Menteri Pertanian, kementerian terkait, hingga Menko Pangan menjadi faktor penting dalam mendorong program tersebut.

Dalam penguatan riset, BRIN menyoroti pengembangbiakan bibit sapi perah unggul sebagai salah satu fokus utama. Arif menyatakan peningkatan kualitas ternak diharapkan dapat mendorong produktivitas susu sehingga ketergantungan impor berkurang.

“Saya kira yang paling penting kan kita mengurangi tergantungan impor. Jadi kita itu mengurangi tergantungan impor dengan apa? ya dengan meningkatkan produksi susu ya,” kata Arif.

Ia menambahkan, tahap awal yang ditekankan adalah menghasilkan sapi-sapi unggul agar produksi susu meningkat, disertai pengembangan riset dan inovasi.

Kerja sama BRIN dan FAO juga dibahas dalam International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar di Gedung BJ Habibie, BRIN, Jakarta, Jumat (27/3/2026). Dalam forum itu, Arif menegaskan sektor peternakan memiliki peran strategis untuk ketahanan pangan, perbaikan gizi, serta penguatan ekonomi pedesaan, sejalan dengan kebutuhan protein dalam program MBG.

“Pertemuan strategis ini menegaskan komitmen Indonesia dalam menjawab tantangan global melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi,” ujar Arif.

Arif juga menyinggung pentingnya praktik peternakan berkelanjutan, termasuk dalam peternakan sapi perah, untuk memperkuat ketahanan sektor peternakan menghadapi perubahan iklim.

“Dengan memperkuat kapasitas riset dan mengadopsi praktik berkelanjutan, kita tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor peternakan terhadap perubahan iklim,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menyatakan kolaborasi yang dibangun melalui forum tersebut ditujukan untuk memperkuat pengembangan sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan. Ia menegaskan FAO berkomitmen mendukung transformasi peternakan di Indonesia melalui pendekatan berbasis sains dan kemitraan strategis.

“Diskusi dan kemitraan yang lahir dari pertemuan ini akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem peternakan yang selaras dengan prioritas nasional dan tujuan global. FAO berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia dalam transformasi ini melalui pendekatan berbasis sains dan kemitraan strategis,” kata Rajendra.