BERITA TERKINI
BRIN Perkenalkan Sembilan Inovasi Siap Komersialisasi, Termasuk Xanthan Gum untuk Aditif Pengeboran Migas

BRIN Perkenalkan Sembilan Inovasi Siap Komersialisasi, Termasuk Xanthan Gum untuk Aditif Pengeboran Migas

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar BRIN Goes to Industry (BGTI) Series 3 pada Kamis (16/4/2026) di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie Lantai 3, Jakarta. Agenda ini dirancang untuk mempertemukan peneliti dengan pelaku industri agar hasil riset dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi serta memperkuat sinergi akademik, bisnis, dan pemerintah.

BGTI Series 3 mengusung tema “Sinergi Riset, Inovasi, dan Hilirisasi pada Xanthan Gum untuk Industri Migas; Aromatika; Kosmetik; dan Enzim”. BRIN menilai forum ini penting untuk menjembatani hasil riset dengan kebutuhan industri, sekaligus menjadi implementasi amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 dan memperkuat kemitraan ABG (Academic, Business, Government).

Fokus utama kegiatan ini adalah mendorong pemanfaatan bahan alam lokal sebagai solusi inovatif guna mengurangi ketergantungan pada impor komoditas strategis. Dalam kesempatan tersebut, BRIN meluncurkan sembilan inovasi unggulan yang disebut telah mencapai tingkat kesiapan teknologi (TKT) tinggi dan siap dikomersialisasikan bersama mitra industri.

Salah satu inovasi yang disorot adalah xanthan gum nasional, biopolimer yang berfungsi sebagai aditif dalam fluida pengeboran minyak dan gas. BRIN menyebut penggunaan bahan ini dapat membantu meningkatkan efisiensi operasi pengeboran.

BRIN juga memperkenalkan inovasi biosains terapan berupa sejumlah enzim strategis, di antaranya enzim urease untuk pengerasan jalan, enzim protease untuk industri penyamakan kulit, enzim lakase untuk kebutuhan whitening agent gigi dan produk perawatan kulit, serta enzim pitase dan mananase untuk pakan ternak.

Di sektor hilir lainnya, BRIN menghadirkan inovasi produk aromatika dan kosmetik berbasis sumber daya alam lokal. Produk-produk tersebut dikembangkan untuk merespons tren pasar global yang mengarah pada penggunaan bahan alami dan berkelanjutan dalam industri perawatan diri.

Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, menyatakan kegiatan ini ditujukan untuk menjembatani kesenjangan antara riset dan implementasi industri yang kerap disebut “lembah kematian” inovasi. “Melalui forum ini, kami mempertemukan logika ilmiah periset dengan logika investasi industri. BRIN menyediakan akses teknologi, sementara industri berperan dalam pengembangan pasar,” ujarnya.

Berbeda dari forum diseminasi konvensional, BGTI Series 3 mengedepankan pendekatan collaborative decision-making melalui sesi business matching dan pertemuan satu per satu. Setiap peluang kerja sama yang muncul akan didokumentasikan dalam bentuk Letter of Interest (LoI) sebagai komitmen awal untuk tindak lanjut.

BRIN berharap pendekatan tersebut dapat mempercepat hilirisasi inovasi melalui skema lisensi teknologi maupun pengembangan produksi bersama dengan mitra industri. Dengan cara ini, hasil riset diharapkan tidak berhenti pada publikasi, melainkan memberi nilai tambah ekonomi.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai sektor, termasuk industri migas, farmasi, kosmetik, serta asosiasi terkait. BRIN menilai kehadiran para pemangku kepentingan itu mencerminkan tingginya minat industri terhadap pemanfaatan hasil riset nasional.

Melalui BGTI Series 3, BRIN menegaskan komitmennya untuk mendorong hilirisasi riset dan inovasi sebagai penggerak ekonomi berbasis pengetahuan. Sinergi riset dan industri diharapkan dapat meningkatkan daya saing nasional sekaligus memperkuat kemandirian industri Indonesia.