Pusat Riset Elektronika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan fokus dan aktivitas riset yang dikembangkannya kepada mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) melalui kunjungan ilmiah di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (4/2).
Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Nadya Larasati Kartika, menjelaskan bahwa riset elektronika memiliki cakupan luas karena melibatkan sistem yang kompleks dan saling terintegrasi. Untuk membuat pengembangan riset lebih terarah, Pusat Riset Elektronika BRIN membagi kelompok riset ke dalam tiga kluster utama, yaitu Devices, Circuits, dan Systems.
“Pembagian kluster ini bertujuan untuk memfokuskan riset sekaligus memperkuat sinergi antarkelompok dalam menghasilkan teknologi yang aplikatif,” kata Nadya.
Menurut Nadya, riset yang dikembangkan tidak hanya ditujukan untuk kemajuan teknologi, tetapi juga diarahkan menjawab kebutuhan dan tantangan masyarakat. Ia mencontohkan riset Kelompok Sensor and Actuator Devices yang mengembangkan sistem pengukuran konsentrasi etanol pada produk pangan, khususnya beras ketan hitam fermentasi.
Sistem tersebut memanfaatkan sensor Grove-HCHO yang selain dapat mendeteksi kadar alkohol, juga dapat digunakan sebagai detektor formalin. Data mentah berupa tegangan dari sensor kemudian diolah melalui pemodelan matematis dan dikonversi otomatis menjadi nilai konsentrasi alkohol menggunakan mikroprosesor berbasis Arduino.
“Perangkat ini berpotensi membantu pengawasan kadar alkohol pada produk pangan yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” ujar Nadya.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan riset keamanan sistem elektronik melalui Kelompok Riset Secured Electronic Design. Kelompok ini berfokus pada perancangan sistem elektronik yang aman dan andal, terutama untuk menghadapi gangguan elektromagnetik atau electromagnetic interference (EMI).
Dalam riset tersebut, dikembangkan metode pengurangan EMI pada kendaraan listrik menggunakan material karet yang disebut sederhana dan berbiaya rendah. Emisi elektromagnetik dari aliran arus listrik pada kendaraan listrik berpotensi mengganggu kinerja sensor, terutama ketika banyak kendaraan beroperasi secara bersamaan.
“Ke depan, penggunaan kendaraan listrik diperkirakan semakin masif. Karena itu, diperlukan rancangan untuk meminimalkan emisi elektromagnetik serta penerapan perisai dan proteksi elektromagnetik buatan,” kata Nadya.
Melalui pengujian dengan metode CISPR 36, pemanfaatan material karet tersebut dinyatakan mampu mereduksi emisi elektromagnetik sehingga sistem elektronik kendaraan dapat beroperasi lebih stabil.
Riset di bidang energi juga dikembangkan melalui Kelompok Thermoelectric and Supercapacitor Devices. Nadya menyampaikan bahwa riset termoelektrik berfokus pada pengembangan perangkat berkelanjutan untuk konversi dan penyimpanan energi yang dapat diaplikasikan pada perangkat elektronik.
“Teknologi termoelektrik memanfaatkan perbedaan suhu lingkungan maupun suhu tubuh manusia untuk diubah menjadi energi listrik sebagai sumber daya alternatif,” ucapnya.
Kelompok tersebut juga mengembangkan perangkat penyimpanan energi yang lebih fleksibel dan aplikatif. Meski daya yang dihasilkan relatif kecil, teknologi ini dinilai cukup untuk mendukung perangkat sensor maupun sistem self-charging, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pengisian baterai berulang.
Ketua Program Studi Teknologi Informasi UBSI, Hendra Supendar, mengatakan kunjungan ke BRIN bertujuan memperkenalkan dunia riset kepada mahasiswa sejak dini. Menurutnya, pemahaman mengenai proses riset penting karena mahasiswa nantinya akan dihadapkan pada penyusunan skripsi berbasis riset.
Melalui kunjungan ilmiah tersebut, Pusat Riset Elektronika BRIN memperkenalkan inovasi serta potensi pemanfaatan riset elektronika di berbagai sektor, sekaligus menegaskan upaya menghasilkan teknologi yang aplikatif, aman, dan berkelanjutan.