Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukuhkan lima profesor riset baru dengan kepakaran strategis yang mencakup biomaterial, perlindungan tanaman, kebijakan pertanian kelapa sawit, bioteknologi laut, serta manajemen sumber daya udara.
Dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset di Jakarta, Rabu, Kepala BRIN Arif Satria menegaskan gelar profesor bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Profesor harus terus belajar, terus melakukan riset, dan menjadi teladan serta inspirasi bagi periset muda,” kata Arif.
Lima profesor riset yang dikukuhkan adalah I Nyoman Jujur (biomaterial), Muhammad Yasin (hama dan penyakit tanaman), Delima Hasri Azahari (ekonomi dan kebijakan pertanian), Ratih Pangestuti (bioteknologi laut), serta Yayan Apriyana (agroklimatologi dan hidrologi).
Arif menyampaikan riset biomaterial masih memiliki ruang pengembangan luas, tidak hanya untuk kebutuhan kesehatan, tetapi juga untuk sektor pertahanan. Ia mencontohkan pemanfaatan biomaterial untuk pengembangan helm, rompi antipeluru, dan fasilitas lain yang berasal dari berbagai sumber, termasuk limbah sawit dan limbah lainnya.
Selain itu, riset penciptaan bibit unggul tahan hama dinilai penting untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Sementara riset biodiversitas laut disebut membuka peluang transformasi mikroalga menjadi produk bernilai tinggi yang relevan dengan kebutuhan pangan dan kesehatan modern.
Arif juga berharap riset yang dilakukan dapat menjadi pijakan untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Ia menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia pada impor obat-obatan.
“90 persen obat-obatan kita masih berbasis pada impor. Untuk meningkatkan kedaulatan kesehatan kita masih membutuhkan para ahli yang mampu untuk bisa mengidentifikasi potensi-potensi berdaya lokal, baik di laut maupun di darat. Dan di laut, produk bioteknologi sudah bisa kita saksikan yang dihasilkan oleh berbagai negara, yang saat ini membanjiri pasar dalam negeri,” ujar Arif Satria.