BERITA TERKINI
BRIN Kembangkan Genteng Komposit Berbasis Biomassa untuk Kurangi Risiko Cedera Saat Gempa

BRIN Kembangkan Genteng Komposit Berbasis Biomassa untuk Kurangi Risiko Cedera Saat Gempa

Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sukma Surya, mengembangkan genteng komposit berbasis biomassa sebagai alternatif material atap bangunan. Genteng ini dirancang lebih ringan, tetap kuat, dan ramah lingkungan.

Sukma menjelaskan, genteng komposit tersebut dibuat dari material biomassa atau lignoselulosa yang diolah menjadi partikel kecil, lalu diproses menjadi produk komposit. Pengembangan ini juga mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire dan rentan terhadap gempa bumi.

Menurutnya, pada sejumlah kejadian gempa, korban cedera kerap terjadi akibat tertimpa genteng yang berat. Karena itu, tim peneliti mengembangkan genteng komposit yang bobotnya lebih ringan namun tetap memiliki kekuatan mekanis yang baik.

Selain lebih ringan, genteng komposit biomassa ini disebut memiliki keunggulan lain, antara lain tahan air, lebih tahan api dengan laju pembakaran yang lebih lambat, serta lebih ramah lingkungan. Produk ini juga diharapkan mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060 melalui pemanfaatan material berbasis biomassa.

Dalam proses pembuatannya, biomassa disiapkan menjadi partikel kecil menggunakan peralatan seperti ring flaker, drum chipper, dan hammer mill. Partikel kemudian dipisahkan berdasarkan ukuran, dikeringkan hingga kadar air tertentu, lalu dicampur dengan perekat. Setelah itu, material diproses melalui tahapan mat forming, cold press, dan hot press molding hingga terbentuk genteng komposit.

Untuk memastikan kualitas, tim peneliti melakukan berbagai pengujian, termasuk uji sifat fisis dan mekanis, uji ketahanan terhadap cuaca, serta uji ketahanan terhadap api. Penelitian ini juga dilengkapi uji lapangan yang dilakukan secara berkala guna memantau performa material.

Sukma menyebut pengamatan lapangan dilakukan setiap tiga bulan untuk melihat dampak perubahan cuaca dan kondisi lingkungan terhadap material genteng. Ia menekankan, pengujian ketahanan material idealnya dilakukan secara kontinu minimal selama lima tahun agar performa jangka panjang dapat terlihat.

Ia menambahkan, posisi atap bangunan yang berada di ruang terbuka membuat material rentan dipengaruhi faktor eksternal, seperti paparan sinar ultraviolet (UV), air hujan, hingga kemungkinan pertumbuhan lumut atau tanaman liar yang terbawa burung. Karena itu, pengembangan teknologi pelapis menjadi bagian penting dari riset ini.

Pelapis tersebut dirancang untuk memberi perlindungan tambahan, seperti meningkatkan ketahanan terhadap sinar UV, air, dan api, serta menghambat pertumbuhan organisme atau tanaman yang tidak diinginkan pada permukaan genteng. Ke depan, BRIN juga berencana mengembangkan berbagai alternatif teknologi, termasuk kemungkinan genteng komposit tanpa perekat, agar produk lebih kompetitif dan dapat menjangkau berbagai segmen pasar.