Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai inovasi serta riset di sektor peternakan menjadi langkah strategis untuk mendukung kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala BRIN Arif Satria di sela kegiatan “International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation” di Kantor BRIN, Jakarta, Jumat. Menurut Arif, dukungan riset dan inovasi diperlukan sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan keamanan pangan dan menyukseskan MBG.
Arif menegaskan, program pemenuhan gizi itu merupakan keputusan strategis Presiden RI Prabowo Subianto yang perlu ditopang oleh inovasi serta riset yang dapat diterapkan di lapangan.
Ia juga menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pihak luar dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi susu. Saat ini, kata Arif, produksi susu dalam negeri baru berkontribusi sekitar 21 persen. BRIN menargetkan peningkatan produksi hingga 96 persen pada 2029, yang menurutnya membutuhkan riset dan inovasi.
Untuk mengejar target tersebut, BRIN tengah mengupayakan peningkatan kemampuan pembiakan (breeding) sapi perah guna mendorong produksi dan produktivitas susu. Dalam jangka pendek, BRIN juga membuka ruang kolaborasi internasional sebagai platform berbagi inovasi teknologi peternakan, termasuk dengan praktisi industri swasta dari Eropa dan negara-negara lain.
Sementara untuk jangka panjang, Arif menyebut langkah yang ditempuh tidak hanya berfokus pada riset dan inovasi produksi, tetapi juga kolaborasi untuk meningkatkan kemampuan adaptasi sektor peternakan terhadap perubahan iklim. Ia menyinggung isu emisi metana dari peternakan yang kerap dikaitkan dengan perubahan iklim, namun menurutnya dapat ditekan melalui riset dan inovasi.
Melalui pendekatan sains, Arif meyakini dampak perubahan iklim dapat diantisipasi sekaligus target ketahanan pangan nasional dapat dicapai.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyatakan Program MBG berpotensi menjadi pengubah permainan (game changer) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta memperkuat transformasi sektor pangan dan peternakan.
Menurut Rachmat, MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan permintaan pasar yang besar dan stabil, khususnya bagi sektor peternakan dalam negeri. Ia memproyeksikan kebutuhan tambahan dari program tersebut mencapai 1,5 juta liter susu dan 47.000 ton daging sapi hingga 2029, yang dinilainya menjadi sinyal positif bagi investor.
“The market is ready, stable, and growing (pasarnya siap, stabil, dan tumbuh),” kata Rachmat.