Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menegaskan komitmennya sebagai kampus penelitian swasta melalui penyelenggaraan Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030. Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, Kampus UMS Solo, Jawa Tengah, Minggu.
Dalam paparannya, Arif menekankan pentingnya roadmap riset nasional sebagai acuan bagi dosen dan mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Ia menegaskan riset tidak cukup berhenti pada publikasi, melainkan harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
“Riset harus berdampak. Harus menjadi jawaban atas persoalan masyarakat dan industri. Karena kemajuan bangsa ditentukan oleh inovasi dan jumlah peneliti yang terlibat,” kata Arif.
Arif juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah UMS yang dinilai konsisten membangun identitas sebagai research university swasta serta memperkuat ekosistem riset. “Saya bangga dengan komitmen UMS dalam membangun ekosistem riset. Semoga semakin maju, semakin sukses, dan semakin banyak karya yang dihilirkan,” ujarnya.
Ia mengutip teori Endogenous Growth dari peraih Nobel Ekonomi Paul Romer yang menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi riset dan pengembangan (R&D), inovasi, serta kualitas sumber daya manusia. Menurut Arif, Global Innovation Index juga berkorelasi dengan GDP per kapita; semakin tinggi indeks inovasi, semakin tinggi pula daya saing dan kesejahteraan.
Namun, ia menilai posisi Indonesia di kawasan ASEAN masih tertinggal sehingga peningkatan kualitas riset menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk bagi perguruan tinggi. Arif menegaskan penguatan ekosistem riset perlu dilakukan secara konsisten, bukan sekadar mengajukan proposal pendanaan.
“Kalau ingin maju, kita tidak bisa hanya mengirim proposal lalu berharap langsung disetujui. Yang dilihat adalah keseriusan membangun ekosistem riset secara konsisten,” tegasnya.
Dalam sesi reflektif, Arif berpesan agar ekosistem riset dibangun dengan saling melengkapi sesuai kompetensi dan karakter masing-masing. Ia juga menyoroti tantangan pola pikir masyarakat yang belum sepenuhnya berbasis sains. Arif mencontohkan fenomena viral seekor lele dengan bentuk unik yang ditanggapi secara supranatural.
“Ketika yang diwawancarai adalah tokoh spiritual dan disebut sebagai ‘lele keramat’, di situ kita melihat sains belum menjadi rujukan utama. Ini tantangan dunia pendidikan,” katanya.
Arif menyebut Indonesia dapat belajar dari model institusi riset di Jerman, seperti Max Planck Society untuk riset dasar, Leibniz Association untuk riset terapan, dan Fraunhofer Society yang berfokus pada komersialisasi. Ia juga menyinggung temuan Metal-Organic Framework (MOF) oleh ilmuwan Jepang Susumu Kitagawa yang disebut mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan gas secara signifikan.
Selain itu, ia mencontohkan Silicon Valley yang berkembang melalui konsolidasi antara universitas, seperti Stanford University, dengan industri teknologi global. Arif juga menyinggung contoh di Tiongkok, ketika perusahaan seperti Huawei menunjukkan kekuatan riset korporasi dengan dominasi peneliti dalam struktur sumber daya manusia.
Melalui Program Riset Strategis 2026–2030, BRIN mendorong strategi leapfrogging atau lompatan teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen inovasi. Arif menyebut konsolidasi antarperguruan tinggi menjadi salah satu kunci, termasuk kolaborasi UMS dengan kampus lain dalam model holding inovasi.
Ia menambahkan BRIN difokuskan pada riset berbiaya dan berisiko tinggi, sekaligus membuka peluang pendanaan bagi mahasiswa S2 dan S3, asisten peneliti, hingga post-doctoral.
Sementara itu, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya mengajak peserta untuk mensyukuri pertemuan ilmiah tersebut sebagai bagian dari “Tadarus Riset”, istilah yang menggambarkan semangat kolektif membangun budaya riset berkelanjutan. Ia juga mendorong pembentukan riset unggulan yang berfokus pada pengurangan impor dan penguatan kebutuhan pokok nasional, seperti pangan, energi, dan industri farmasi.