Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Kemitraan Riset dan Inovasi berkolaborasi dengan Yayasan Inotek (Inovasi dan Teknologi Indonesia) menggelar Workshop Teknologi Hilirisasi Komoditas Buah-Buahan, Umbi-umbian, dan Perikanan di Kabupaten Majalengka. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 16–17 April 2026, di KUB Asboro Jatitujuh.
Ketua Tim Diseminasi dan Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi BRIN, Wihatmoko Waskitoaji, mengatakan workshop tersebut merupakan bagian dari tugas BRIN dalam melakukan diseminasi kepada masyarakat. Ia menegaskan BRIN terbuka untuk berbagi pengetahuan melalui berbagai skema, termasuk melalui koordinasi kelompok masyarakat dengan pemerintah daerah setempat untuk menyampaikan kebutuhan kepada Yayasan Inotek yang telah bekerja sama dengan BRIN.
Wihatmoko juga berharap peserta memanfaatkan kegiatan ini untuk menggali pengetahuan dari para narasumber BRIN yang dapat dipraktikkan secara langsung.
Dari Pemerintah Kabupaten Majalengka, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian yang diwakili Kepala Bidang Perindustrian BKPSDM Majalengka, Lucky Yulianty, menilai hilirisasi sebagai langkah strategis. Menurutnya, hilirisasi tidak hanya mengolah bahan mentah menjadi produk jadi, tetapi juga mencakup inovasi produk, peningkatan kualitas, pengemasan yang menarik, serta pemanfaatan teknologi tepat guna agar produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Lucky menyebut workshop ini ditujukan untuk mendorong transformasi tersebut melalui pemahaman dan keterampilan praktik bagi masyarakat desa, khususnya 10 kelompok terseleksi yang mengikuti kegiatan.
General Manager INOTEK Foundation, Dewi Suryani, menyoroti potensi sumber daya alam Kabupaten Majalengka yang dinilai besar, namun masih banyak komoditas dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambahnya rendah. Ia mengatakan Inotek bekerja sama dan berkolaborasi dengan Yayasan Indonesia Setara serta Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui program Desa Emas atau Desa Ekonomi Maju dan Sejahtera.
Menurut Dewi, program tersebut mengusung konsep One Village One Product (OVOP) untuk mengangkat potensi lokal tiap wilayah, dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat melalui nilai tambah dari produk yang dihilirisasi. Melalui workshop, pihaknya ingin memperluas wawasan sekaligus mendorong penerapan teknologi hilirisasi agar masyarakat memahami pentingnya peningkatan nilai ekonomi produk sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dan daya saing di pasar nasional hingga global.
Dalam workshop ini, BRIN menghadirkan narasumber dari tiga pusat riset. Wiwik Handayani, Perekayasa Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Proses, memaparkan inovasi pengolahan mangga reject agar bernilai tinggi. Ade Saepudin, Perekayasa Ahli Madya dari Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler, menyampaikan proses pembuatan tepung mocaf dan tepung pisang. Sementara Diana, Perekayasa Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan, menjelaskan pengolahan ikan air tawar seperti nila dan lele menjadi abon ikan, nugget ikan, dan tepung ikan.
Selain paparan materi, kegiatan ini juga memuat praktik atau intervensi teknologi terkait hilirisasi produk, antara lain pengolahan mangga menjadi manisan, pengolahan pisang dan singkong menjadi tepung pisang dan tepung mocaf, serta pengolahan ikan air tawar menjadi produk olahan. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai cara memperpanjang umur simpan produk.