Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia memperkuat penerapan pendekatan Build Back Better (BBB) dalam pemulihan pascabencana berbasis riset. Penguatan ini disampaikan dalam diseminasi hasil kaji cepat banjir dan longsor di Sumatera Barat dan Aceh yang digelar secara hybrid pada Selasa (31/3) di Hotel Convention Center Universitas Negeri Padang.
Kegiatan tersebut melibatkan kementerian, pemerintah daerah, akademisi, serta komunitas perhutanan sosial. Forum ini diarahkan untuk mengintegrasikan hasil riset ke dalam proses perumusan kebijakan publik, terutama dalam merespons dinamika bencana hidrometeorologi yang kian berkembang.
Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, yang mewakili Kepala BRIN, menyampaikan bahwa hasil kajian menunjukkan perubahan signifikan dalam pola risiko bencana. Menurutnya, banjir dan longsor tidak lagi dapat dipandang semata sebagai peristiwa ekstrem, melainkan telah menjadi bagian dari “new normal” risiko bencana yang melampaui kapasitas adaptasi konvensional.
Ali Yansyah menambahkan, perubahan tersebut menuntut pembaruan cara memahami dan merespons bencana, termasuk dalam merancang strategi pemulihan yang lebih adaptif terhadap kondisi lapangan. Ia menjelaskan, pendekatan BBB dalam kajian ini diarahkan untuk mendorong pemulihan yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga meningkatkan kualitas sistem sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan secara menyeluruh.
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gusti Ayu Ketut Surtiari, turut menyoroti keterkaitan dampak bencana yang kini makin kuat lintas wilayah. Ia menyebut dampak tidak hanya dirasakan di lokasi terdampak, tetapi juga menjalar ke wilayah lain melalui sistem distribusi dan aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Senior Manager Regional Sumatera WRI Indonesia, Rakhmat Hidayat, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan pascabencana. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak secara simultan diperlukan agar hasil penanganan lebih efektif dan berkelanjutan.
BRIN menempatkan riset sebagai landasan strategis untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan tidak hanya responsif, tetapi juga berbasis data dan evidensi. Melalui forum tersebut, masukan dari pemangku kepentingan dihimpun untuk memperkuat rekomendasi kebijakan agar lebih kontekstual dan implementatif, sekaligus menjembatani kebutuhan kebijakan dengan realitas di lapangan.