BERITA TERKINI
BRIN dan Thailand Institute of Nuclear Technology Teken MoU Kerja Sama Riset Teknologi Nuklir

BRIN dan Thailand Institute of Nuclear Technology Teken MoU Kerja Sama Riset Teknologi Nuklir

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama di bidang teknologi nuklir dengan Thailand Institute of Nuclear Technology (TINT) di Jakarta, 31 Maret. Kesepakatan ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi riset dan inovasi nuklir, termasuk pengembangan teknologi terkait akselerator.

Melalui kerja sama tersebut, Pusat Riset Teknologi Akselerator BRIN dan TINT akan berkolaborasi dalam riset dan pengembangan 13 MeV DECY Cyclotron and Its Beam Line. Pengembangan prototipe 13 MeV DECY Cyclotron disebut dapat diaplikasikan untuk produksi radioisotop.

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menyatakan kemitraan ini menjadi momentum untuk memperkuat kembali kolaborasi dan mendorong implementasi yang lebih konkret di kawasan. BRIN, menurut Edy, juga mendorong perluasan kerja sama tidak hanya pada teknologi nuklir, tetapi juga teknologi akselerator melalui program pertukaran mahasiswa dan peneliti serta penguatan platform kolaborasi riset di tingkat regional.

“Kami akan memperkuat dan meningkatkan kolaborasi ini ke depan, tidak hanya pada teknologi nuklir, tetapi juga teknologi akselerator. Hal ini penting bagi negara-negara di Asia, khususnya Indonesia dan Thailand,” ujar Edy. Ia menambahkan BRIN membuka peluang kolaborasi yang lebih luas melalui platform riset yang melibatkan mahasiswa, peneliti, dan talenta global, termasuk program manajemen talenta untuk mengundang mahasiswa dan peneliti datang ke Indonesia.

Dari pihak Thailand, Executive Director TINT Thawatchai Onjun menilai kerja sama ini sebagai langkah awal untuk memperluas kolaborasi riset nuklir di kawasan ASEAN. Ia menyebut kolaborasi antara kedua lembaga dapat menjadi titik awal penguatan kerja sama yang lebih besar, terutama antarlembaga riset nuklir di kawasan.

Thawatchai juga menyoroti kesamaan fokus riset dan infrastruktur antara kedua institusi yang dinilai membuka peluang berbagi pengetahuan dan menghindari duplikasi riset. “Kita memiliki banyak kesamaan, baik dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, maupun lingkup riset. Ini menjadi dasar kuat untuk saling belajar dan berbagi, sehingga memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” katanya.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bahri menyampaikan komitmen BRIN untuk membuka kolaborasi yang lebih konkret dan terarah dengan peneliti Thailand, khususnya dalam bidang teknologi maju. Ia mengatakan BRIN terbuka bagi ilmuwan, insinyur, maupun mahasiswa dari Thailand untuk melakukan kolaborasi, termasuk kemungkinan membentuk perjanjian riset bersama atau joint research agreement pada bidang yang saling menguntungkan.

Syaiful menambahkan, terdapat potensi penguatan kerja sama pada pengembangan teknologi akselerator dan fusi, seiring kemajuan yang telah dicapai Thailand di bidang tersebut. “Kami ingin menggali lebih dalam kolaborasi di bidang akselerator, fusi, maupun teknologi lainnya, karena kami melihat Thailand memiliki kemajuan di area tersebut,” ujarnya.